' '
| | 6.963 kali dibaca

dr L Dwi Hartadi Akhirnya di Adili

Terdakwa dr Limaran Dwi Hartadi ketika disidangkan di PN Tanjungpinang, Selasa (12/05).

Terdakwa dr Limaran Dwi Hartadi ketika disidangkan di PN Tanjungpinang, Selasa (12/05).

Tanjungpinang, Radar Kepri-dr Limaran Dwi Hartadi (64) biasa disapa dr Dwi, Selasa (12/05) mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Tanjungpinang (PN Tpi). Dokter umum yang buka praktek di Jl Bakar Batu, Tanjungpinang itu didakwa telah penggelapan yang mengakibatkan PT Korindo Group rugi Rp 23 623 600 000.

Dalam surat dakwaa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Zaldi Akri SH dengan nomor PDM-37/TG.PIN/EP.2/04/2015 dijelaskan kronologis peristiwa yang menghantarkan dr Dwi ke bui.

Berawal dari rapat direksi di PT Aspex Kumbong pada bulan Juni 2007 yang dilaksanakan diruangan meeting Direksi Korindo Group di Gedung Wisma Korindo dihadiri An Geun Hyo selaku direktur marketing, Bulia Wijaya selaku direktur utama PT Tunas Sawa dan PT Bade Makmur Orissa.

Rapai tersebut memaparkan perencanaan pembelian tanah/lahan di Pantai Trikora, Kabupaten Bintan oleh Kim Munte alias Mustakim. Isi perencanaan tersebut adalah untuk membeli tanah/lahan tersebut untuk masa depan karyawan perusahaan. Peserta rapat menyetujui secara lisan yang hasilnya, setuju untuk membeli tanah di Tri Kora, pembelian tanah tersebut diserahkan pada Mustakim. Kemudian pembelian tanah tersebut harus diatasnamakan (atas nama) karyawan anggota perusahaan Korindo Group yang sudah menjadi warga Negara Indonesia. Rencana pembelian lahan ditargetkan seluas 100 Hektar, harga dekat pantai, 50 Hektar Rp 29 000 permeter dan jauh dari pantai sebanyak 50 hektar Rp 15 000 permeter persegi.

Selanjutnya Kim Mun Tah alias Mustakim mengeluarkan unga dari perusahaan Korindo Group dengan memerintahkan saksi Kim Jonh Man untuk membuatkan aplikasi pengeluaran uang oleh Mustakim kepada manager Finance untuk ditransfer ke rekening dr Limaran Dwi Hartadi untuk membeli tanah/lahan di Bintan. Total uang yang dikirim ke rekening dr Limaran Dwi Hartadi mencapai Rp 29 Miliar.

Kemudian dr Limaran Dwi Hartadi membeli lahan sebanyak 36 bidangseluas 651 184 meter persegi dengan surat sertifikat, kemudian sebanyak 25 bidang seluas 403 476 meter persegi dengan status surat alas hak. Total seluaruh bidang tanah/lahan yang sudah dibeli dan dibebaskan dr Limaran Dwi Hartadi seluas 1 054 660 meter persegi.

Sesuai dengan data yang tertera dalam akta jual beli seluas 66 hektar dengan total pembelian Ro 3 346 400 000 dan sesuai dengan akta pembebasan lahan, total pembelian Rp 2 130 000 000. PT Aspek Kumbong sudah pernah secara tertulis total pembelian lahan tersebut hanya Rp 8 000 000 000. Sedangkan uang yang sudah ditransfer mencapai Rp 29 Miliar. Terdakwa dr Limaran Dwi Hartadi menjawab surat tersebut, isinya mengakui ikut membantu pengurusan pembebasan pembelian lahan di Gunung Kijang dan menyebutkan pembayaran pada pemilik lahan masih kurang Rp 2 Miliar lagi.

Kemudian pada 21 Sepetember 2011, PT Aspex Kumbong mengirimkan surat lagi yang isinya meminta dr Limaran Dwi Hartadi mengirimkan dokumen atau bukti pada perusahaan, Dan dr Limaran Dwi Hartadi membalas surat isinya, dirinya diminta pimpinan membantu menyelesaikan administrasi dan akta jual beli, membuat perincian harga-harga. Dr Limaran Dwi Hartadi, melalui selembar surat pernyataan juga mengklaim mendapat perintah dari Kim Mun The alias Mustakim untuk membeli lahan dengan status sertifikat sah di Tri Kora seluas 150 Hektar dan pelaksanaanya baru terealisir 108 Hektar.

Terdakwa dr Limaran Dwi Hartadi ketika disidangkan di PN Tanjungpinang, Selasa (12/05).

Terdakwa dr Limaran Dwi Hartadi ketika disidangkan di PN Tanjungpinang, Selasa (12/05).

Pada saat Kim Mun Tah alias Mustakim menyerahkan akta jual beli, sertifikat, akta pelepasan hak atas tanah, surat kuasa dan alas hak saja, dank arena tidak dilengkapi kwitansi pembelian. Maka pihak Korindo Group menghitung total nilai pembelian seluruh tanah berdasarakn yang tercantim akta jual beli dan akta pelepasan hak, nilainya hanya mencapai Rp 5 376 400 000. Kemudian pihak perusahaan meminta pertanggungjawaban terdakwa dr Limaran Dwi Hartadi penggunaan uang Rp 23 623 600 000. Namun dr Limaran Dwi Hartadi mengaku sudah menyerahkan seluruh kwitansi dan surat-surat tanah yang dibeli di Tri Kora, akan tetapi tidak dapat memperlihatkan tanda terima atau kalau dikirim melalaui ekspedisi atau jasa pengiriman berupa surat tanda terima.

Karena tidak bisa membuktikan kemana “raibnya” uang Rp 23 Miliar lebih itu, akhirnya Korindo Group melapor ke Polda Kepri. Sempat 3 tahun “macet” proses hukum kasus ini di Polda Kepri, Awal tahun 2015, pihak pelapor (Korindo Group) akhirnya mengajukan upaya hukum luar biasa dengan mengajukan praperadilan, hingga akhirnya proses hokum kasus diperintahkan pengadilan untuk diteruskan.

Pada 22 April 2015, penyidik Polda Kepri menyerahkan berkas dan tersangka dr Limaran Dwi Hartadi ke Kejaksaan Tinggi Kepri. Sejak itu pula, dr Limaran Dwi Hartadi langsung ditahan di Rutan Kelas II A Tanjungpinang.

Atas perbuatanya, terdakwa dr Limaran Dwi Hartadi dijerat melanggar, primer pasal 374 KUH Pidana, subsidair pasal 372 KUH Pidana. Terdakwa dr Limaran Dwi Hartadi yang didampingi 5 orang pengacara,diantaranya Herman SH dan Eko Murti Saputra SH menyatakan akan mengajukan eksepsi (keberatan) atas surat dakwaan jaksa tersebut pada persidangan selanjutnya.”Silahkan disampaikan eksepi pada persidangan Selasa (19/05).”kata Bambang Trikoro SH MH, ketua majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut.(irfan)

Ditulis Oleh Pada Sel 12 Mei 2015. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek