'
| | 792 kali dibaca

Atmadinata Tersandung Dugaan Korupsi dan Cabul

Atmadinata

Atmadinata

Tanjungpinang, Radar Kepri-Nama Atmadinata dikalangan penegak hukum ( Kejaksaan dan Kepolisian) kembali “popular”. Penghujung tahun 2008 lalu, Kejaksaan Tinggi Kepri telah menetapkan Atmadinata sebagai tersangka tindak pidana korupsi pembangunan Madrasyah Aliyah Negeri (MAN) di Bintan Timur, Kabupaten Bintan, provinsi Kepri. Anehnya, sampai hari ini Atmadinata tidak pernah di adili sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (saat ini Pengadilan Khusus Tipikor, red) Tanjungpinang.

Dua hari belakangan ini, nama Atmadinata, menjabat Kepala Bidang Pendidikan Dasar di Dinas Pendidikan Provinsi Kepri kembali menghiasi berbagai media masa. “Melambungnya” nama Atmadinata bukan karena torehan prestasi. Nama lelaki berkepala plontos ini “melejit” karena tersandung dugaan tindak pidana pencabulan. Tak tanggung-tanggung, korban dugaan pencabulan Atmadinata dua orang sekaligus, kakak dan adik.

Akankah Atmadinata kembali lolos dari jerat hukum ?. Inilah sepenggal pertanyaan yang mencuat, mengingat pada dugaan tindak pidana koruspi pembangunan MAN Bintan Timur, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri. Ternyata berkas tersangka Admanita dan Panindan Purba tak kunjung dilimpahkan Kejaksaan Tinggi Kepri ke pengadilan.

Dalam catatan media ini, untuk kasus dugaan korupsi pembangunan MAN Bintan Timur itu, kejaksaan Tinggi Kepri telah menetapkan Atmadinata dan Panindan Purba sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi pembangunan Madrasyah Aliyah Negeri (MAN) di Bintan Timur, Kabupaten Bintan. Proyek ini  dibiayai APBD Kepri TA 2007 dari pos anggaran Dinas Pendidikan dengan pagu dana Rp 1 miliar. Atma dinata merupakan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Sedangkan, tersangka Panindan Purba adalah Direktur CV Mariani, pemenang tender. Atma Dinata dan Panindan Purba ditetapkan sebagai tersangka diduga telah melakukan korupsi sebesar Rp 500 juta lebih dari total anggaran sebesar Rp 822 juta lebih.

Kajati Kepri yang saat itu dijabat  M Yusuf  SH MH didampingi Asintel (waktu itu dijabat) M  Nasrun SH MH dalam ekspos perkara dan langsung menggelar jumpa pers. Menerangkan, hasil Lid tim intelejen Kejati Kepri atas kasus dugaan korupsi tersebut, menemukan masa kontrak dimulai tanggal 2 Agustus 2007 dan berakhir tanggal 29 Nopember 2007 serta adendum sampai dengan 30 Nopember sampai dengan 31 Desember 2007.

Namun, dalam pengerjaanya CV Mariani yang memenangkan proyek tersebut, men-subkan kepada Heryanto. Hasil inspeksi tim lid Kejati Kepri dan perhitungan akhir dan sampai masa kontrak berakhir ternyata pekerjaan yang dikerjakan Haruyanto tidak selesai.”Ketika kita turun mengecek ke lapangan pekerjaan baru dilaksanakan sekitar 13 persen. Sementara dalam laporan penyusuan anggaran atau KPA, Atamdinata melaporkan pengerjaan mencapai 60 persen. Sehingga, tim Lid menyimpulkan ada penyelewengan,” jelas M Nasrun SH MH.

Dijelaskan M Nasrun SH MH perincian pembangunan gedung sekolah MAN baru tersebut, antara lain pembangunan empat unit kantor majelis guru dan lokal, ruangan kepala sekolah ukuran 4 meter x 5 meter, ruangan guru 4 meter x 6 meter dan ruangan penjaga sekolah.

Jumlah item pengerjaan tersebut telah dibuat berita acara kemajuan pekerjaan proyek.”Sehingga memudahkan pembayaran termin pertama sebesar Rp 314 juta. Sebelumnya sudah dibayar uang muka sebesar Rp 247 juta. Dari total uang yang dikelurakan tersebut, diperkirakan kerugian negara mencapai Rp 561 juta lebih.”tegas M Nasrun SH MH.

Sebelum menetapkan Atma Dinata dan Panindaan Purba, tim Lid Kejati Kepri telah memanggil dan memintai keteranga. Diantaranya, Kepala Dinas Pendidikan Pemprov Kepri yang waktu itu dijabat Arifin Nasir dan Mantan Kepala Dinas Pendidikan, Ibnu Maja.”Secara resmi, mulai hari ini setelah kasus ini diekspos kami menetapkan At dan PP sebagai tersangka. Selanjutnya dilanjutkan ke tingkat penyidikan dengan menyerahkan hasil penyelidikan kepada tim penyidik (dik) untuk ditindaklanjuti.”kata M Jusuf SH MH waktu itu. Namun sampai hari ini, berkas dugaan korupsi pembangunan MAN Bintan Timur itu tak kunjung dilimpahkan ke Pengadilan tanpa alasan yang jelas.

Terkait dugaan pencabulan yang saat ini gencar di sorot media. Atmadinata membantah.”Itu tidak benar. Ngawur saja tu.”bantahnya ketika dikonfirmasi wartawan.

Pada kesempatan terpisaha Kapolresta Tanjungpinang AKBP Patar Gunawan melalui humas Polresta AKP Wisnu Adi yang dikonfirmasi media ini melalui pesan singkat pada Senin (24/03) menjawab.”Maaf saya diluar, belum dapat laporan. Nanti kalau sudah ada saya kabari.”janji AKP Wisnu.(irfan)

Ditulis Oleh Pada Sen 25 Mar 2013. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek