| | 1.846 kali dibaca

Di RAUDHAH-MU AKU BERSIMPUH

Masjid Nabawi.


Oleh: H. Tirtayasa, S.Ag., M.A.

Pukul 07:30 WIB pagi.

Kapal feri yang membawaku dan beberapa jamaah umrah lainnya diberangkatkan dari Pelabuhan Sri Bintan, Tanjung Pinang, menuju pelabuhan Tanah Merah, Singapura. Angin berhembus lembut, membelai jendela kapal lalu dengan halus mengusap sejuk wajah para penumpang kapal yang masih tampak segar bugar. Terdengar riak air laut menghempas dinding kapal. Aku tidak lupa mengeluarkan handycam kesayanganku yang baru kubeli di salah satu toko elektronik di Batam. Lalu kuabadikan perjalanan menyeberang laut Indonesia menuju Laut Singapura.

Kurang lebih pukul 09.00 WIB atau pukul 10.00 waktu Singapura, aku dan rombongan sampai di Pelabuhan Tanah Merah, Singapura. Di Pelabuhan Tanah Merah, kami mendapat pemeriksaan yang super ketat dari petugas pelabuhan dan imigrasi.

“Nak ke mana, Pak Cik?” tanya salah seorang petugas imigrasi berwajah India tapi dengan logat Melayu yang kental. Tak kusangka di negara yang mayoritas berpenduduk Tionghoa itu, masih ada juga orang yang mampu berbahasa Melayu dengan logat yang terbilang sangat baik.

“Mau umrah, Pak Cik,” jawabku sambil tersenyum ke arahnya. Petugas itu juga tersenyum.

“Silakan, Pak Cik,” ujar petugas itu seraya mengembalikan pasporku.

“Terima kasih,” sahutku sambil mengambil pasporku yang baru diperiksa petugas. Lalu aku mengambil tas US Polo yang baru saja selamat dari detektor logam petugas pelabuhan. Aku dan beberapa anggota jamaah umrah lainnya kemudian menunggu anggota jamaah yang sempat bermasalah dengan petugas imigrasi. Untung saja, Ustadz Zainal Arifin yang memandu kami sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi masalah-masalah seperti itu. Sejenak kulihat dia berbincang alot dengan petugas. Beberapa saat kemudian, anggota jamaah yang bermasalah itu diizinkan melanjutkan perjalanan.

Untuk memasuki Singapura, tampaknya penampilan yang terjaga dengan baik sangat penting diperhatikan. Salah seorang ajudan pejabat daerah yang mendampingi atasannya mengantarkan keluarganya berangkat umrah, sempat ditahan agak lama oleh petugas imigrasi. Dengan penampilannya yang sangat seadanya, dia ditahan karena dicurigai datang ke Singapura untuk mencari kerja. Memang, menurut cerita, orang-orang Singapura sangat anti dengan orang Indonesia yang datang ke negerinya untuk mengais rezeki. Untungnya, setelah berdebat agak lama, akhirnya ajudan itu diizinkan melanjutkan perjalanan menyusul kami ke Bandara Changi.

Setelah semua anggota jamaah yang diberangkatkan melalui sebuah perusahaan Singapura yang bergerak di bidang pelayanan perjalanan umrah ini sampai di  Bandara Changi, kami dibagikan boarding pass Singapore Airlines rute penerbangan Singapura-Jeddah, transit di Abu Dhabi. Setengah jam sebelum keberangkatan, kami dipanggil masuk ke ruang tunggu. Menuju ke ruang tunggu, dua kali kami mendapat pemeriksaan dari petugas bandara. Pemeriksaan pertama tidak begitu ketat. Namun pemeriksaan kedua ini lebih ketat dari sebelumnya. Di sini, parfum pun diperiksa dengan teliti. Parfum dengan kapasitas melampaui seratus mililiter harus dikurangi atau diikhlaskan untuk disita oleh petugas bandara. Aku sempat gugup ketika botol parfum Bulgari-ku diamati dan diteliti petugas. Untung saja, kapasitasnya tidak melampaui ketentuan yang ditetapkan. Akhirnya, parfum kesayanganku selamat dari sitaan petugas. Seorang nenek sempat mengeluh kepada Ustadz Zainal Arifin, pemandu umrah kami, karena gunting kecil kesayangannya disita petugas. Apa boleh buat. Sudah menjadi aturan, di dalam pesawat, penumpang tidak boleh membawa senjata tajam walau sekecil apa pun, termasuk gunting kecil seperti yang dimiliki sang nenek.

Tepat pukul 01.00 siang waktu Singapura, kami diberangkatkan menuju Jeddah dengan Singapore Airlines bernomor penerbangan SQ456. Aku mendapat jatah duduk di kursi 44E, tempat duduk yang letaknya agak jauh di belakang. Bagiku tidak masalah. No problem. Yang penting semua penumpang sampai ke Jeddah pada jam yang sama. Tidak ada yang tercecer di udara.

Setelah semua penumpang berada di dalam pesawat, pramugari memperagakan prosedur keselamatan penerbangan sipil. Prosedur keselamatan  itu disampaikan dalam bahasa Inggris. Ketika melihat pramugari yang dengan tangkasnya memperagakan prosedur keselamatan itu, aku teringat dengan temanku yang pernah menyampaikan protes kepada pramugari yang sedang bertugas memperagakan prosedur keselamatan dalam sebuah penerbangan sipil.

“Bu Pramugari. Kita sekarang kan di dalam pesawat, bukan di kapal laut. Kenapa prosedur kesalamatannya mirip dengan prosedur keselamatan pelayaran kapal laut? Memangnya kalau jatuh, bisa dijamin pesawat jatuhnya di air? Kenapa tidak diperagakan cara mengenakan parasut? Kalau terjadi apa-apa dengan pesawat, para penumpang bisa terjun payung ramai-ramai. Itu kan lebih asyik.”

Pramugari yang sedang bertugas itu menanggapi pertanyaan temanku itu dengan senyum.

Begitu pramugari yang memperagakan prosedur keselamatan Singapore Airlines selesai menjalankan tugasnya, aku menguatkan ikatan sabuk pengaman. Sesaat kemudian, beberapa orang pramugari membagikan handuk putih basah dan hangat. Setelah mengelap debu yang menempel di muka dan leherku dengan handuk yang dibagikan pramugari, kemudian aku berdoa, “Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah. Maha Suci Engkau ya Allah, yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami. Sebenarnya kami tidak mempunyai kesanggupan untuk mengendalikan, dan kami semua akan kembali kepada Tuhan kami. Amin.”

Sejurus kemudian, deru Singapore Airlines yang membawa tidak kurang dari 500 penumpang itu memecah langit Singapura. Perlahan burung besi itu merambah angkasa, sampai pada ketinggian tiga puluh lima ribu kaki di atas permukaan laut. Pada ketinggian seperti itu, dadaku mulai terasa sesak. Dalam penerbangan domestik, ketinggian pesawat tidak pernah mencapai ketinggian penerbangan seperti pesawat yang sedang kutumpangi itu. Paling tinggi, tiga puluh ribu kaki di atas permukaan laut. Itu pun sudah bisa membuat penumpang sesak.

Sesaat kemudian, beberapa orang pramugari dan pramugara membagikan makanan dan minuman ringan. Aku memilih roti dan minuman teh manis hangat. Aku tidak mau minuman bersoda, khawatir maag-ku kambuh. Tidak lama kemudian, pramugari dan pramugara lainnya membagikan makan siang.

“Silakan, Pak Cik. Pak Cik pilih yang mana? Tapi, kalau boleh saya usul, sebaiknya Pak Cik pilih lauk ikan saja. Karena lauk daging ayam atau daging sapi, kita tak jamin kehalalannya,” ucap seorang pramugara menawarkan pilihan menu kepadaku dengan bahasa Melayu yang kental. Kalau tidak salah, namanya Syamsul Bahari. Aku mengangguk begitu mendengar tawarannya untuk memilih lauk ikan. Betul juga katanya. Di dalam pesawat asing seperti Singapore Airlines, memilih lauk ikan itu lebih aman dari segi syariat. Lauk daging ayam ataupun daging sapi, tidak ada jaminan kehalalannya bagi umat Islam. Tidak diketahui persis bagaimana pihak penyedia katering menyembelih ayam atau sapi itu. Sesuai syariat atau tidak?

“Baik, Pak Cik. Saya pilih lauk ikan saja,” kataku dengan logat Melayu pula.

“Baik. Silakan, Pak Cik.”

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Setelah menikmati makan siang lauk ikan itu, aku mencoba memanfaatkan fasilitas hiburan televisi dan radio yang disediakan bagi penumpang. Fasilitas tersebut  terpasang  di setiap belakang sandaran kursi tempat duduk penumpang pesawat. Televisi dan radio dipasang menghadap ke arah setiap penumpang di belakang sandaran kursi. Kukenakan headphone yang tersedia. Kuotak-atik remote berkabel yang ada di sandaran kursi tangan kananku. Saluran televisi pertama menampilkan ketinggian jelajah pesawat, jarak tempuh, suhu di luar pesawat, sisa perjalanan dan sebagainya. Setelah puas mencermati detil informasi perjalanan, aku kembali menekan-nekan tombol remote. Astaghfirullah. Ternyata ada saluran televisi yang menayangkan film yang menggoda iman. Aku sempat kaget bukan kepalang. Lalu, aku berpindah ke saluran lainnya. Kunikmati tayangan film India tempo dulu. Kupindahkan ke saluran lain lagi. Kusaksikan tayangan film laga Mandarin yang tak sedikitpun bahasanya kumengerti. Kemudian kualihkan ke saluran lain. Kunikmati tayangan musik klasik Mozart. Lalu kucari saluran televisi Indonesia. Ternyata tidak ada. Sepertinya memang tidak diprogramkan. Kucari saluran televisi Timur-Tengah. Apalagi. Semakin tidak ditemukan. Akhirnya, aku kembali ke menu semula. Kutatap satu persatu detil informasi penerbangan. Tertulis di sana, jarak penerbangan ke Abu Dhabi, tempat transit menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, yang tinggal beberapa ribu kilometer. Kecepatan pesawat masih berada pada angka tercepat, seribu kilometer per jam dengan ketinggian jelajah tiga puluh lima ribu kaki di atas permukaan laut.

Setelah beberapa jam kemudian, tiada terasa, tiba-tiba pesawat mengurangi kecepatannya. Di layar video di depanku, kusaksikan gambar pesawat yang sedang meliuk-liuk mengitari langit Abu Dhabi. Badan pesawat terasa sedikit bergoyang. Jantungku agak deg-degan. Sesaat kemudian, bandara Abu Dhabi terasa mengusap kasar roda Singapore Airlines yang kutumpangi. Aku tiba dengan selamat di Abu Dhabi setelah menempuh tujuh jam tiga puluh menit penerbangan dari Bandara Changi, Singapura.

Alhamdulillah… Kuhaturkan puja-puji syukur. Kuaktifkan HP-ku. Setelah beberapa saat, baru layar HP-ku menampakkan sinyal. Di Abu Dhabi, kartu Simpatiku ternyata bisa kugunakan untuk mengirim SMS kepada isteriku yang menungguku harap cemas di tanah air. Kukirim SMS teruntuk isteriku, “Alhamdulillah, papa sudah mendarat di Abu Dhabi, sayang.” Beberapa detik kemudian, handhpone-ku bernyanyi. Kubaca SMS balasan dari isteriku, “Alhamdulillah. Kapan berangkat lagi dari Abu Dhabi, sayang?” Kujawab, “ Satu jam lagi. Tunggu papa ya, sayang.” Dijawab, “Iya, sayang.”

Aku kini berada di bandara milik Abu Dhabi, sebuah negara di Timur-Tengah yang kaya dengan hasil minyak. Bandara itu terletak di pinggir pantai. Aku tidak bisa melihatnya dengan leluasa. Penumpang tidak dibenarkan keluar pesawat. Padahal penerbangan baru akan dilanjutkan satu jam kemudian. Aku hanya bisa melihat bandara Abu Dhabi melalui kaca jendela pesawat.

Dalam waktu satu jam menunggu penerbangan selanjutnya, aku menyaksikan para petugas kebersihan lalu-lalang masuk ke pesawat. Dengan cekatan mereka membersihkan kabin pesawat yang sempat berantakan oleh sisa makanan dan minuman penumpang. Petugas berwajah khas Timur-Tengah itu membersihkan kabin pesawat dengan wajah yang jarang tersenyum. Aku tidak tahu kenapa mereka seperti itu. Padahal Rasulullah pernah mengatakan, senyummu terhadap saudaramu adalah sedekah bagimu. Kalau mereka muslim, pastilah hadis tentang anjuran tersenyum ini  pernah mereka dengar dan mestinya diamalkan dalam kehidupan termasuk ketika bekerja.

Dalam bukunya, Ibtasim, yang pernah kubaca, Aidh Al-Qarni, penulis terlaris Arab Saudi, menguraikan panjang lebar tentang senyum. Menurutnya, banyak pemikir yang berpendapat bahwa senyum adalah salah satu penyebab yang paling kuat yang mendorong manusia agar lebih efektif. Oleh karena itu, mereka memberikan nasehat, agar semua orang, sesuai dengan posisinya dalam kehidupan ini, jika ingin hidup dengan tenang, rileks, dan berbahagia, hendaklah mereka hidup dengan penuh senyum dan bahkan tertawa. Hal ini pada gilirannya akan menciptakan nuansa kejernihan, kebersihan, menghilangkan kesedihan, rasa bosan, dan khawatir terhadap kehidupan dunia ini. Orang yang sering tersenyum adalah orang yang paling sedikit mengalami keriput di wajah karena tua.

Jiwa yang selalu tersenyum akan melihat kesulitan-kesulitan dengan tenang, untuk kemudian mengalahkan kesulitan itu. Dia melihat kesulitan itu sambil tersenyum, berikutnya menanganinya dengan tersenyum pula, dan selanjutnya dia akan mengalahkannya dengan tersenyum juga.

Rasulullah adalah orang yang paling banyak tersenyum. Beliau tersenyum seperti embun yang tampak bersinar di wajah yang lebih cemerlang dari matahari, kening yang lebih bercahaya dibandingkan rembulan purnama, mulut yang lebih suci dari wewangian, akhlak yang lebih lembut dari bunga, dan cinta yang lebih halus dari angin semilir.

Aku yakin, seandainya para petugas itu pernah membaca hadis Rasulullah tentang anjuran tersenyum dan uraian Aidh Al-Qarni tentang keutamaan senyum, mereka pun pasti akan menjalankan tugas sambil tersenyum. Mudah-mudahan begitu.

Ingin rasanya aku mengajak mereka berbincang-bincang. Tapi, aku menyadari, kemampuan berbahasa Arabku terbatas. Daripada nanti salah ngomong, aku lebih memilih untuk diam. Sesuai pesan Rasulullah, diam itu membawa hikmah. Bersesuaian pula dengan pesan beliau lainnya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam saja. Karena itu, daripada aku berbicara tapi aku tidak bisa memberikan kebaikan melalui pembicaraanku itu, aku memilih untuk diam seribu bahasa sambil terus memperhatikan para petugas kebersihan itu menjalankan tugasnya.

Sudah satu jam burung besi itu beristirahat di bandara Abu Dhabi. Sejurus kemudian, gemuruh kembali mesin pesawat menggetarkan bibir pantai beraspal itu. Aku kembali menguatkan sabuk pengaman dan berdoa. Burung besi itu kembali melayari angkasa raya, menerobos awan tebal yeng menyelimuti langit Abu Dhabi.

Beberapa saat kemudian, para penumpang dibagikan kaos kaki dan selimut. Tapi, tak sampai lima menit menunggu, tiba-tiba kaos kaki itu ditarik kembali. Katanya, petugas mendapatkan informasi yang salah entah dari mana. Informasi keliru itu diralat, kaos kaki tidak dibagikan di sore hari, tapi hanya dibagikan kepada para penumpang pada penerbangan malam. Aku sempat kesal karena penarikan kaos kaki itu. Bisa-bisanya, pesawat semodern ini, pelayanannya ternyata masih kurang profesional. Pikirku, apalah artinya selembar kaos kaki yang sudah dibagikan kepada para penumpang. Kenapa tidak dibiarkan saja kaos kaki itu dikenakan penumpang? Berapalah harganya. Apa salahnya jika kaos kaki itu dikenakan oleh para penumpang sore hari itu. Toh, penerbangan dengan ketinggian jelajah tiga puluh lima ribu kaki di atas permukaan laut juga telah membuat para penumpang menggigil kedinginan, meskipun mereka berada dalam penerbangan siang ataupun sore hari. Biarlah. Itu urusan mereka. Itulah kebijakan pihak manajemen Singapore Airlines. Aku pun tidak menuntut kaos kaki itu dikembalikan kepadaku. Aku bisa saja membeli kaos kaki seperti itu di pasar-pasar di Mekah atau Madinah.

Kurang lebih satu jam kemudian, beberapa orang pramugari dan pramugara membagikan jatah makan malam kepada penumpang. Kuperhatikan daftar menu masakan yang diperlihatkan seorang pramugara yang datang menghampiriku. Daftar menu itu berbahasa Inggris. Pramugara berwajah Tionghua itu kemudian  menyapaku dengan ramah, “Good evening, Sir. What  can I do for you, Sir?

Good evening. Can you tell me about Biryani Rice?” jawabku balik bertanya.

Biryani Rice, Sir?

Yes.”

It’s very delicious, Sir.”

Oh yes? Thank you. I’ll take it.”

All right. Wait a moment, please.”

Beberapa saat pramugara itu menyiapkan sekotak Nasi Biryani yang kupesan.

Here you are, Sir.”

Thank you very much.”

You are welcome.”

Anything else, Sir

Yes, a glass of mineral  water.”

Here you are, Sir.”

Thank you very much.”

You are welcome.”

Kubuka kota pembungkus Nasi Biryani yang katanya lezat itu. Kupegang sendok dan garpu plastik yang tersedia dalam kotak nasi. Setelah berdoa, lalu kucicipi sedikit demi sedikit nasi khas India itu. Memang lezat! Luar biasa! Dalam waktu dua menit, nasi sebungkus sedang itu, kulahap hingga tanpa sisa.

Setelah kupikir-pikir, rasanya perutku yang dari sekian jam lalu keroncongan karena tidak berselera terhadap menu makan siang yang disediakan maskapai penerbangan Singapura itu, masih minta diisi. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang pramugara berwajah Melayu lewat di sampingku.

“Maaf, Pak Cik,” ujarku dengan logat Melayu.

“Ya, Pak Cik. Ada yang bisa saya bantu?” tanya pramugara itu sopan.

“Boleh tak saya minta tambah Nasi Biryani satu bungkus lagi?”

“Boleh, Pak Cik. Tunggu sebentar ya. Saya ambilkan.”

Sejenak pramugara itu menghilang dari pandangan. Setelah menunggu beberapa menit, dia datang menghampiriku dengan membawa sekotak Nasi Biryani di tangan kanannya.

“Silakan, Pak Cik,” tawarnya.

“Terima kasih banyak, Pak Cik,” jawabku.

“Sama-sama,” ujarnya seraya mohon diri untuk kembali pergi.

Setelah pramugara itu beranjak dari depan mataku, Nasi Biryani itu kubuka bungkus kotaknya. Lalu, kulahap sampai habis. Alhamdulillah. Akhirnya, perutku yang tadi masih keroncongan, kini terasa padat berisi. Dan, aku kembali beristirahat sambil menyandarkan punggungku ke sandaran kursi pesawat yang empuk.

Setelah menempuh kurang lebih dua jam penerbangan dari Abu Dhabi, pesawat yang kutumpangi menginjakkan roda raksasanya di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Alhamdulillah. Aku mengucapkan syukur. Kuaktifkan kembali HP-ku dan kukirim kabar untuk isteriku bahwa aku sudah tiba dengan selamat di Jeddah, dan beberapa saat lagi akan bertolak ke Madinah.

Satu persatu penumpang turun dari pesawat. Kutenteng tas hitam US Polo yang baru kubeli di salah satu kawasan pertokoan di Jodoh, Batam. Perlahan kulangkahkan kakiku menyusul para penumpang lainnya keluar dari pesawat melalui pintu keluar terdekat. Begitu aku keluar dari pintu pesawat, aku disambut hawa Jeddah yang panas menusuk hidung. Padahal waktu kami mendarat di sana, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam waktu setempat.

Setelah turun dari pesawat, kami menaiki kendaraan bandara untuk diantar ke terminal kedatangan. Sesampai di terminal kedatangan, untuk kesekian kalinya aku dan beberapa penumpang non-jamaah umrah lainnya diperiksa petugas imigrasi.

Masmuk?” tanya petugas imigrasi.

“Abdurrahman,” jawabku.

Min aina qadimta?” tanyanya lagi.

Min Indonesia.”

Final jawaz?

Petugas berwajah khas Arab Saudi itu bertanya tentang pasporku.

Hadza, tafadhdhal,” jawabku.

Fin at-ta’syirah?

Dia bertanya perihal visa.

Hadzih, tafadhdhal,” jawabku lagi. Kutunjukkan visa umrahku yang menempel di paspor itu.

Limadza dzahabta ila huna?”

Dia bertanya alasanku ke Arab Saudi.

Lil’umrah,” jawabku.

Khudz jawazak!”

Dia menyerahkan kembali pasporku.

Syukran.

“‘Afwan.”

Setelah beberapa saat dia memeriksa kelengkapan dokumen perjalananku, aku diizinkan meniggalkan tempat pemeriksaan. Dipandu Ustadz Zainal Arifin, aku dan jamaah lainnya menuju ke tempat pemeriksaan tas barang bawaan. Aku diminta membuka tasku sebelum diperiksa petugas. Katanya, kalau terlambat sedikit saja membuka tas untuk diperiksa, petugas bandara yang berwajah garang itu akan menyilet tas yang aku bawa tanpa bisa mengajukan keluhan. Menurut informasi ustaz pemandu umrah, begitulah kebiasaan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Aku harus tunduk dengan peraturan yang tidak tertulis itu.

Kemudian, kami keluar dari terminal kedatangan menuju bis yang telah siap mengantarkan kami ke Madinah. Sesampai di bis, kami terpaksa harus mengantri cukup lama untuk bisa keluar dari lapangan parkir yang padat mobil pribadi dan angkutan umum itu. Ketika mengantri keluar dari lapangan parkir, aku teringat saat aku bersama rombongan keluarga besar pesantren di tanah Jawa tempatku belajar dulu keluar dari parkiran usai berziarah di makam Sunan Gunung Muria. Saking banyaknya mobil yang terparkir di lapangan parkir berlokasi di kaki Gunung Muria itu, keberangkatan kami untuk ziarah ke tempat tujuan selanjutnya sempat tertunda satu jam. Aku juga teringat ketika rombongan peserta ziarah Walisongo itu keluar dari parkiran Taman Ancol, Jakarta, setelah beberapa jam berekreasi di taman hiburan itu. Berjibun mobil pribadi dan mobil umum memadati antrian keluar dari tempat hiburan ternama di ibu kota itu.

Melihat kejadian di parkir Bandara King Abdul Aziz, aku pun berpikir, ternyata parkiran macet tidak hanya ada di negaraku. Di Arab Saudi pun juga seperti itu. Dalam menghadapi situasi seperti ini, tidak ada yang aku dan anggota jamaah umrah lainnya bisa lakukan kecuali bersabar. Memang, sabar itu pahit. Tapi buahnya manis. Lebih manis dari madu.

Setelah berpuluh-puluh menit mengantri, akhirnya kami bisa bernapas lega. Bis yang akan mengantarkan kami ke Madinah itu kebisa keluar dengan mulus dari tempat parkir. Menurut rencana, sebelum ke Madinah, kami akan mampir di sebuah masjid yang terletak di pinggir jalan menuju Madinah. Aku lupa nama masjid itu. Di masjid itulah pertama kalinya aku merasakan shalat di tanah Arab. Aku melaksanakan shalat Magrib dan Isya dengan jama’ qashar ta’khir bersama rombongan jamaah umrah yang berjumlah lima belas orang di bawah pimpinan Ustadz Zainal Arifin.

Setelah beristirahat sejenak usai shalat, kami melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Dalam perjalanan menuju Madinah, aku sempat tertidur kecapekan. Tiada terasa, begitu aku terbangun, indahnya Masjid Nabawi telah terpampang di depan mata. Itulah masjid yang diterangi dengan 674 lampu kristal yang dipesan khusus dari produsen lampu kristas terkenal di Italia, memiliki 12 payung raksasa yang dapat membuka dan menutup secara otomatis yang diatur oleh sistem komputer. Itulah masjid yang memiliki ruang bawah tanah seluas 73.500 meter persegi yang terletak di bawah masjid untuk menempatkan pusat pengaturan elektronik, mekanik, dan tata suara dan pendingin ruangan. Itulah masjid yang memiliki lahan parkir di bagian bawah pelataran yang sanggup menampung 4.500 mobil, yang memiliki toilet 2.500 unit, tempat wudu 6.800 pancuran, dan tempat minum air dingin di 560 lokasi. Ya Allah!  Betapa indahnya masjid Nabi-Mu. Betapa agung dan mulianya masjid yang sudah berumur lebih dari seribu lima ratus tahun ini. Izinkanlah hamba melaksanakan shalat di masjid Nabi-Mu itu. Izinkanlah hamba untuk merasakan nikmatnya beriktikaf di sana. Amin.

Pukul lima kurang tujuh belas menit waktu Madinah, kami tiba di sebuah hotel mewah, Hotel Hilton Madinah, yang berjarak kurang lebih lima puluh meter dari pagar depan Masjid Nabawi. Begitu sampai di lobi hotel, kami disambut hembusan AC yang sejuk dan keramahan yang menyenangkan dari resepsionis hotel. Aku segera mengirim SMS untuk isteriku di tanah air, memberi kabar bahwa aku sudah sampai dengan selamat di Madinah.

Di hotel itu, aku, Ustadz Zainal Arifin dan Amjad, temanku, mendapat jatah satu kamar bertiga di lantai enam. Sesampai di kamar, aku langsung mandi, berwudu dan melaksanakan shalat Subuh di kamar hotel. Setelah beristirahat sejenak, kami langsung keluar hotel mencari perlengkapan ibadah seperti jubah, peci, tasbih, dan lain-lain. Sebenarnya, aku sudah membawa perlengkapan ibadah seperti itu dari tanah air. Tapi, rasanya kurang afdhal, beribadah di tanah suci tidak dengan perlengkapan ibadah yang dibeli di tanah suci juga. Itu menurut pikiran dan perasanku. Aku tidak tahu menurut pikiran dan perasaan anggota jamaah yang lainnya.

Seusai membeli beberapa perlengkapan ibadah tersebut, aku mencari VCD tilawah Al-Qur’an para qari’ dan imam besar Masjid Nabawi serta imam besar Masjidil Haram. Aku juga mencari kitab tentang hukum waqf dan ibtida’ dalam membaca Al-Qur’an. Aku meminta bantuan penjual berwajah Arab untuk mencari kitab yang kuperlukan itu.

Hal yujad huna kitabu Manaril Huda fi Ahkamil Waqfi wal Ibtida’?” tanyaku dengan modal bahasa Arab yang ala kadarnya. Aku tidak tahu persis apakah penjual itu mengerti atau tidak apa yang kumaksudkan seperti petugas imigrasi di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Tapi, tiba-tiba penjual itu berdiri dan mencari kitab yang kumaksud. Syukurlah, penjual itu ternyata memahami bahasa Arabku yang seadanya. Dia menemukan kitab dengan judul yang mirip dengan judul kitab yang kusebut. Judulnya Ma’alim Al-Ihtida’ ila Ma’rifah Al-Waqf wa Al-Ibtida’. Penulisnya, Syaikh Khalil Al-Khushari. Beliau adalah syaikhul maqari’ dari Mesir. Lumayan, pikirku. Walaupun tidak persis seperti yang aku cari, tapi setelah kubuka-buka, ternyata isinya juga berbicara panjang lebar tentang waqf dan ibtida’ dalam membaca Al-Qur’an, dan salah satu referensi kitab itu adalah kitab yang tadi aku cari.

Kam tsaman, ya Syaikh?” tanyaku.

Khamsatas,” jawabnya.

Aku bingung dengan jawaban penjual itu. Apa yang dimaksudnya dengan khamsatas? Mungkin khamsata ‘asyar, disingkat khamsatas.

Kam?” tanyaku lagi untuk meyakinkan pemahamanku.

“Lima belas,” jawabnya.

“Oh. Lima belas,” ujarku sedikit bergumam.

Rupanya penjual itu bisa berbahasa Indonesia. Kalau saja kutahu dia bisa berbahasa Indonesia, maka aku tidak perlu repot-repot berbahasa Arab ketika meminta bantuannya mencarikan kitab itu.

Syukran,” ujarku.

‘Afwan,” jawabnya.

Sebenarnya, aku ragu untuk berbicara dengan bahasa Arab dengan penjual di Plaza Ibnu Dawud yang terletak kurang lebih dua puluh meter dari Hotel Hilton Madinah itu. Aku khawatir bahasa Arabku yang seadanya menjadi bahan tertawaan para penjual di sana. Karena itu, dalam berbelanja, aku lebih sering  menggunakan bahasa Inggris. Atau, kalau para penjual itu tidak paham dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, maka aku terpaksa menggunakan bahasa isyarat. Itu senjata pemungkasku. Benar sekali! Bahasa isyarat yang dadakan dan didapat secara otodidak bisa sangat berguna, jika penjual yang kuhadapi itu tidak memahami bahasa Arab yang kugunakan untuk berkomunikasi, dan jika dia tidak paham dengan bahasa Inggris serta jika dia juga tidak paham dengan bahasa Indonesia. Kalau tetap juga dia tidak paham dengan bahasa isyarat, maka aku memilih untuk berpindah ke penjual lain yang paham dengan bahasa yang aku gunakan untuk berbelanja.

Menurut informasi yang kudapat dari beberapa teman yang pernah ke tanah suci, orang-orang di pasar atau plaza itu, tidak begitu paham atau tidak begitu peduli dengan bahasa Arab standar atau bahasa Arab fush-ha seperti yang pernah aku pelajari di pesantren dan di bangku kuliah dulu. Bahasa Arab fush-ha hanya digunakan di sekolah, kampus atau oleh imam-imam besar Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, juga oleh para petugas serta pejabat negara. Bahasa Arab yang digunakan oleh para penjual di Plaza Ibnu Dawud itu adalah bahasa Arab suqiyyah, bahasa Arab  pasaran, atau bahasa Arab yaumiyyah, bahasa Arab harian.

Bahasa Arab fush-ha bisa disepadankan dengan bahasa Indonesia yang disempurnakan atau EYD. Bahasa Arab suqiyyah atau yaumiyyah itu bisa disepadankan dengan bahasa Indonesia pasaran. Bahasa Indonesia pasaran bisa bermacam-macam, seperti bahasa Indonesia pasaran dialek Betawi, dialek Bandung, dialek Jawa, dialek Sumatera, dialek Kalimantan Barat, dan lain-lain.

Bahasa Arab pasaran juga bermacam-macam, seperti bahasa Arab pasaran dialek Madinah, dialek Mekah, dialek Jeddah, dialek Riadh, dialek Kufah dan lain-lain. Setiap daerah punya dialeknya masing-masing. Maka, aku tidak heran, jika bacaan Al-Qur’an pun bisa bermacam-macam, disesuaikan dengan kemampuan dialek berbahasa para sahabat ketika Al-Qur’an diturunkan. Dialek yang bermacam-macam itu dibenarkan oleh Rasulullah. Ilmu yang mempelajari pelbagai dialek bacaan Al-Qur’an itu disebut ilmu qiraat. Secara definitif, dapat aku kemukakan ilmu qiraat adalah ilmu mengenai cara membaca lafaz-lafaz Al-Qur’an  serta perbedaan cara membacanya menurut versi orang yang me-naqal-kannya. Demikian menurut Sya’ban Muhammad Ismail dalam bukunya Al-Qiraat: Ahkamuha wa Mashdaratuha. Dari definisi ini, bagiku jelas bahwa pembahasan dalam ilmu qiraat adalah ilmu mengenai membaca Al-Qur’an dari segi bahasa dan dialek pengucapannya, yang memang diperbolehkan Allah, agar seseorang mudah dan ringan dalam membacanya.

***

Pukul 11.30 waktu Madinah.

Hari Jumat.

Terik matahari seakan membakar kulit. Bola api raksasa itu menjilat-jilat petala langit Madinah. Menurut informasi satuan pengamanan hotel, suhu kota Madinah hari itu mencapai 45 derajat celcius. Sungguh luar biasa! Di tanah air, aku tidak pernah merasakan suhu siang hari sepanas itu.

Aku berusaha melangkahkan kaki menuju pintu Masjid Nabawi. Sebelumnya aku ragu, apakah aku mampu bertahan di bawah terik panas matahari dengan suhu setinggi itu. Aku berusaha menguatkan hati. Panas di dunia ini belum seberapa bila dibandingkan dengan panas Padang Mahsyar dan panasnya bara api neraka. Begitu pikirku. Aku terus melangkahkan kaki yang beralaskan sandal karet campur kulit berwarna coklat yang kubeli di Ramayana, Tanjung Pinang, khusus untuk umrah.

Cuaca siang itu memang terasa sangat panas sekali. Sungguh luar biasa! Tapi, anehnya, tubuhku tidak mengeluarkan keringat sedikitpun. Karena panasnya cuaca, hidungku terasa akan mimisan. Kumasukkan jari telunjuk tangan kananku ke salah satu lobang hidungku. Benar sekali. Hidungku memang sedang mimisan. Hanya saja darahnya tidak sempat menetes. Darah hidungku mengering sebelum sempat menetes mambasahi bibirku. Untung saja jarak dari Hotel Hilton Madinah ke Masjid Nabawi cuma lima puluh meter. Dalam waktu lima menit perjalanan, aku sudah sampai di pintu Masjid Nabawi. Sesampai di depan pintu Masjid Nabawi, aku berdoa, “Allahummaftahli abwaba rahmatik.”

Lalu kulepaskan sandalku. Kumasukkan sandal itu ke dalam kresek hitam yang sudah aku siapkan. Lalu sandal yang sudah terbungkus kresek hitam itu kutenteng masuk ke dalam Masjid Nabawi. Kutelusuri karpet yang tergelar lurus menuju Mimbar Nabi. Sesampai di depan Mimbar Nabi, aku bergeser sedikit ke kiri. Tepat di situlah Raudhah, tempat yang mustajab untuk berdoa.

Raudhah artinya taman. Dulu, tempat ini terletak di antara rumah, sekarang Makam Nabi, dan mimbar masjid yang sekarang disebut Mimbar Nabi. Di situlah dulu Nabi biasa membacakan wahyu dan mengajarkan Islam di depan para sahabat terdekatnya, yang beberapa di antara mereka sudah ditetapkan sebagai ahli surga. Mengingat besarnya makna tempat tersebut, Nabi pernah bersabda, “Antara kamar dan mimbarku terletak satu bagian dari taman surga.”

Karena itu, tidak heran, kini orang berebut untuk ikut menikmati surga yang ditandai dengan karpet hijau ini. Akibatnya, Raudhah menjadi tempat yang selalu penuh sesak oleh jamaah. Tak heran pula, jika aku pun butuh perjuangan luar biasa untuk mendapatkan tempat di Raudhah. Setelah mendapatkan tempat yang agak lega, kuletakkan kresek hitam berisi sandal dan tas biru tua berisi dokumen, HP dan perlengkapan ibadah seperti tasbih dan buku Bimbingan Ibadah Umrah, di ujung jari kakiku. Kemudian aku menunaikan shalat tahiyatul masjid.

Allahu Akbar!

Aku mengucapkan takbiratul ihram. Kulaksanakan satu persatu rukun dan sunah shalat tahiyatul masjid.

Assalamu’alaikum warahmatullah. Assalamu’alai-kum warahmatullah,” ucapku. Setelah mengucapkan salam, aku berzikir. Lalu beriktikaf, menunggu waktu shalat Jumat.

Raudhah, tempatku beriktikaf, adalah termasuk interior bagian lama Masjid Nabawi. Dibandingkan dengan bagian baru di sisi lain masjid, bagian lama ini terkesan lebih semarak, baik dari segi warna, maupun dari segi ornamen yang ada. Atapnya berkubah-kubah, penuh ornamen cantik dengan dominasi warna biru. Mimbar Nabi yang terletak pas di sebelah kanan Raudhah, juga unik. Untuk mencapai mimbar itu, dahulu Nabi harus menaiki beberapa anak tangga. Sekarang, mimbar itu dilapisi emas. Aku mencoba mengabadikan Mimbar Nabi itu dengan camera 2 megapixel HP-ku. Baru beberapa detik aku merekam suasana mimbar itu, mendadak Ustadz Zainal Arifin melarang. Katanya, HP-ku bisa dibanting petugas keamanan sampai hancur kalau sampai aku kepergok sedang mengambil gambar Mimbar Nabi. Aku langsung menyimpan HP kesayanganku itu dalam tas biru tua yang selalu kutenteng ke mana pun aku pergi. Syukurlah, petugas yang sedang bersandar di Mimbar Nabi itu tidak sempat melihatku yang sedang merekam wajahnya.

Seraya beriktikaf, kusapu detil Raudhah dengan mataku yang berlapis kaca mata minus satu koma lima. Pelataran Raudhah tidak begitu luas. Kira-kira 22 x 15 meter. Raudhah memiliki beberapa tiang penyangga penting bernilai sejarah. Tiang Taubah terletak antara Tiang Aisyah dan Tiang As-Sarir. Tiang Aisyah terletak tepat di tengah Raudhah. Di tiang ini tertulis tulisan Usthuwanah Aisyah dalam bahasa Arab. Tiang As-Sarir terletak menempel dengan dinding Makam Rasulullah. Tiang Al-Haras menempel pada dinding Makam Rasulullah di sebelah utara. Tiang ini bersejarah karena dijadikan pos keamanan oleh para sahabat terhadap Rasulullah. Kemudian, Tiang Al-Wufud. Tiang yang satu ini dipakai Rasulullah saat menerima tamu-tamu penting yang berkunjung ke rumah beliau.

Sambil memperhatikan detil Raudhah, tidak beberapa lama kemudian, kudengar azan Jumat mengalun lembut. Usai azan Jumat dikumandangkan, aku menunaikan shalat sunah qabliyah Jumat. Sejurus kemudian, khatib mengucapkan salam. Lalu muazin kembali mengumandangkan azan yang kedua kalinya. Ternyata di Madinah, azan Jumat juga dua kali. Sama seperti di Masjid Raya tempat kelahiranku. Kemudian khatib melanjutkan khutbahnya. Seluruh khutbah disampaikan dalam bahasa Arab. Alhamdulillah, bekal bahasa Arabku yang pas-pasan ternyata cukup bermanfaat untuk memahami isi khutbah itu. Meskipun tidak seluruhnya dapat kupahami, tapi paling tidak tujuh puluh lima persen isinya bisa kupahami dan kujelaskan kembali kepada temanku, Amjad.

Selesai khutbah disampaikan, muazin melantunkan iqamah sebagai tanda shalat Jumat berjamaah segera dilaksanakan. Sejenak kemudian, terdengar imam Masjid Nabawi mengingatkan para jamaah agar merapatkan dan meluruskan shaf. Lalu, “Allahu Akbar!” seru imam Masjid Nabawi.

Seingatku, aku pernah mendengar suara khas itu. Benar sekali! Itulah suara Syaikh Al-Khuzaifi, Imam Besar Masjid Nabawi.

Allahu Akbar!” Aku mengucapkan takbiratul ihram menyusul imam. Satu persatu rukun dan sunah shalat Jumat dilalui dengan penuh khusyuk.

Assalamu’alaikum warahmatullah. Assalamu’alai-kum warahmatullah,” ucapku mengkakhiri shalat Jumat.

Betapa nikmatnya melaksanakan shalat Jumat di Masjid Nabawi. Aku seperti baru usai melaksanakan shalat Jumat bersama Rasulullah dan para sahabatnya, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Asya’ari, Abdullah bin Mas’ud dan lain-lain.

Ya, Allah. Betapa nikmatnya beriktikaf di Raudhah-Mu ini. Ya Allah, di Raudhah-Mu aku bersimpuh, memohon ampun merangkai doa.

Segala puji bagi Allah, yang nilai-Nya tak dapat diuraikan oleh para pembicara, yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung oleh para penghitung, yang hak-hak-Nya atas ketaatan tak dapat dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha mentaati-Nya, orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelaman pengertian tak dapat mencapai-Nya.

 

Ya, Allah. Aku serahkan sepenuhnya urusanku kepada Yang Maha Hidup Yang tidak akan pernah mati. Segala puji bagi Allah yang tidak membuat teman ataupun anak, tidak pula punya sekutu di dalam kerajaan-Nya, tidak punya pembantu karena lemah, dan kuagungkan Dia dengan seagung-agungnya.

 

Wahai Cahaya langit dan bumi. Wahai Pendiri langit dan bumi. Wahai Penghias langit dan bumi. Wahai Pecantik langit dan bumi. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Pemilik keagungan dan kehormatan. Wahai Penolong orang yang minta tolong. Wahai Penolong orang yang berteriak minta tolong. Wahai Puncak harapan orang-orang yang berharap. Wahai Pelepas duka. Wahai Pembebas dari kesulitan. Wahai Penjawab doa orang yang terdesak. Wahai Pelenyap setiap kesulitan. Wahai Tuhan semesta alam.

 

Ilahi, bagaimana aku berdoa kepada-Mu, padahal aku tetaplah aku. Bagaimana aku putuskan harapan dari-Mu, padahal Engkau, ya tetaplah Engkau.

 

Ilahi, ketika aku tidak meminta kepada-Mu saja, Engkau tetap memberiku. Lalu siapa lagi gerangan orang yang bila aku minta dia mau memberi kepadaku?

 

Ilahi, ketika aku tidak berdoa saja kepada-Mu, Engkau tetap mengabulkanku. Lalu siapa lagi gerangan orang yang bila aku memohon kepadanya dia mau mengabulkanku?

 

Ilahi, ketika aku tidak merebahkan diriku di hadapan-Mu, Engkau tetap menyayangiku. Lalu siapa lagi gerangan orang yang bila aku merebahkan diri di hadapan-Nya dia menyayangiku?

 

Ilahi, sebagaimana Engkau telah belah lautan untuk Musa, menyelamatkannya, aku memohon kepada-Mu, curahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan agar Engkau menyelamatkanku dari keadaan susah yang menerpaku ini, lepaskanku darinya, secepatnya tanpa ditunda-tunda lagi, dengan karunia dan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.

 

Ilahi, kepada Engkaulah aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku, lemahnya aku di depan manusia. Engkau Maha Pengasih di antara para pengasih. Engkau Tuhan orang-orang tertindas, Engkau Tuhanku. Kepada siapa lagi aku bersandar? Kepada orang jauh yang memuramkan mukanya kepadaku? Atau kepada musuh yang Engkau kuasakan dia atas urusanku?

 

Aku tidak peduli jika Engkau tidak marah kepadaku. Tapi, pengampunan-Mu kepadaku jauh lebih lapang. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan, membenahi semua urusan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku, dari diterpa kebencian-Mu. Engkau pemilik keridhaan sehingga kami pun ridha. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan-Mu.

 

Ya Allah. Aku sungguh menghadap kepada-Mu, berkat Nabi-Mu, nabi rahmat, dan berkat keluarganya yang Engkau pilihkan berdasarkan pengetahuan-Mu untuk sekalian alam. Ya Allah, mudahkanlah kesulitanku, dan hilangkanlah kesedihanku. Lindungi aku dari kejelekannya, karena Engkau Pelindung, Penyelamat, Pemenang, Pemaksa dan Penguasa.

 

Ya Allah. Wahai yang qadha-Nya tidak bisa ditolak sekalipun oleh penguasa yang perkasa, yang bala’-Nya tidak bisa ditangkal sekalipun oleh orang-orang yang agung dan luhur. Wahai yang menghilangkan kesusahan dari seorang tawanan lemah yang dibungkam. Wahai pencegah penderitaan dari orang tertindas yang meratap di tengah ngerinya bencana. Aku memohon kepada-Mu, dengan wasilah yang paling agung di sisi-Mu, yang paling dekat di sisi-Mu, Muhammad penutup para nabi, keluarga Thaha, Yasin, kelurga suci. Supaya Engkau melepaskanku dan memudahkanku jalan keluar bagiku dari fitnah yang menimpaku. Engkau sungguh Maha Mendengar doa, Maha Dekat dan Pengabul doa.

 

Ya Tuhanku. Mata-mata telah terlelap tidur. Bintang-bintang telah terbenam. Sedang Engkau adalah Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus makhluk hidup terus-menerus, tiada kantuk tiada pula tidur. Malam yang gelap gulita tidak samar bagi-Mu, tidak pula langit yang punya berbagai gugusan bintang, tidak pula bumi yang terhampar luas, samudera yang bergelombang, tidak pula kegelapan yang berlapis-lapis.

 

Wahai penolong orang-orang baik. Wahai penolong orang-gorang yang mohon pertolongan. Dengan rahmat-Mu, aku memohon pertolongan. Curahkanlah shalawat kepada Muhammad, penuhilah hajatku, bukakanlah mata hatiku, cerahkan pikiranku, jernihkan mata batinku, kuatkanlah imanku, perbanyaklah ilmuku, berkatilah rezekiku, jadikanlah isteriku isteri yang salehah, jadikanlah anak-anakku permata hati yang selalu membawa kesejukan bagi jiwaku. Wahai Tuhan, jangan Engkau tolak aku sehingga aku kecewa dan gigit jari, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.

 

Ya Allah. Wahai pemilik anugerah Yang tak pernah dianugerahi. Wahai pemilik karunia, tiada tuhan selain Engkau, Pelindung orang-orang yang mencari perlindungan, Penyelamat orang-orang yang mencari keselamatan, Pengaman orang-orang yang takut. Jika aku tercatat sebagai orang yang menderita, terhalang dan sempit rezeki, mohon hapuskanlah penderitaan, keterhalangan dan kesempitan rezekiku itu dalam ummul kitab dan tetapkan aku di sisi-Mu sebagai orang yang diberi rezeki, diberi taufik untuk melakukan berbagai kebaikan, karena Engkau berfirman dalam Al-Qur’an, “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki, dan Allah menetapkan apa yang Dia kehendaki, di sisi-Nya-lah ummul kitab.

 

Wahai Yang Memberi rezeki orang-orang miskin. Wahai Yang Mengasihi orang-orang miskin. Wahai Yang Memberi Petunjuk orang-orang kebingungan. Wahai Penolong orang-orang yang meminta pertolongan. Wahai Penguasa hari Pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

 

Ya Allah. Jika rezekiku berada di langit, turunkanlah. Jika berada di bumi, keluarkanlah. Jika berada jauh, dekatkanlah. Jika sedikit, perbanyaklah. Jika sulit, mudahkanlah. Berkahilah aku dalam rezeki itu dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.

 

Ya Allah. Engkau Maha Mengadili hamba-hamba-Mu dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Tiada tuhan kecuali Allah Yang Maha Tinggi, Maha Agung. Tiada tuhan kecuali Allah Yang Maha Penyantun, Maha Pemurah. Maha Suci Allah Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan Arsy yang Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah Yang Maha Mengusir duka nestapa. Maha Penghalau gundah gulana, Maha Memperkenankan doa orang-orang yang menderita bila dia memohon kepada-Nya. Wahai Yang Maha Penyayang kepada seisi dunia dan akhirat dan Maha Menyayangi kedua-duanya. Karuniakanlah aku rahmat dalam menghadapi hajatku ini agar dapat aku penuhi dan berhasil mencapainya, tanpa memerlukan lagi rahmat selain rahmat-Mu.

 

Wahai Tuhan. Berikanlah kepada para pemimpin negaraku, keimanan, ketakwaan,  hidayah, kekuatan, agar mereka dapat menjalankan segala amanah yang dibebankan kepada mereka. Wahai  Tuhan Yang Maha Perkasa. Berilah kekuatan kepada para penegak hukum di negaraku agar hukum yang mereka tegakkan benar-benar hukum yang membawa keadilan kepada seluruh rakyat, bukan keadilan bagi segelintir pejabat dan konglomerat. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang. Kasihanilah para pemimpin negaraku yang sudah terlalu banyak menyusahkan rakyatnya. Ampunilah mereka atas segala dosa yang telah mereka lakukan. Berikanlah kepada mereka kesempatan untuk bertobat agar mereka terlepas dari siksa di akhirat. Wahai Tuhan Yang Maha Kuat. Kuatkanlah hati para pemimpin negaraku agar tidak tergoda untuk bermaksiat. Kuatkanlah jiwa mereka agar tidak tergoda untuk melakukan korupsi. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih. Curahkanlah rasa kasih-Mu kepada para pemimpin negaraku yang sekarang lebih merasa takut kepada lembaga pemberantasan korupsi daripada kepada-Mu. Jangan Engkau azab mereka karena kesalahan itu. Bersihkanlah tauhid mereka agar tidak terjebak syirik kepada-Mu.

 

Wahai Tuhan Yang Maha Memberi Cinta. Di Raudhah-Mu aku bersimpuh, menyampaikan keluh. Wahai Raja Dirajanya para pecinta. Berikanlah kepadaku kekuatan cinta seperti yang telah Engkau berikan kepada kekasih-Mu, Muhammad, kepada Khadijah dan Aisyah, seperti kekuatan cinta yang Engkau anugerahkan kepada khalil-Mu, Ibrahim, kepada Sarah dan Hajar.

 

Wahai Tuhan Yang Maha Pengampun. Ampunilah segala dosaku, segala dosa orang tuaku, segala dosa isteriku, segala dosa anak-anakku, segala dosa guru-guruku, segala dosa orang-orang terdekatku, segala dosa orang-orang yang telah menzalimiku. Wahai Tuhan Yang Maha Mengabulkan doa. Perkenanlah segala doaku.    

Setelah berdoa dengan doa yang cukup panjang,  kemudian aku berdiri sambil menenteng tas biru tua dan kresek hitam berisi sandal. Kemudian aku bergerak menuju ke arah Makam Nabi dan dua orang sahabatnya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Dari Raudhah aku melangkah ke arah kiblat  melewati pintu keluar dari Raudhah, kemudian berbelok ke kiri, dan aku menghadap ke kiri 45 derajat. Di depanku, terdapat keterangan dalam tulisan Arab bergaya Tsulutsi dan Naskhi bahwa bangunan berornamen dominasi warna hijau dan kuning emas itu adalah Makam Nabi dan dua sahabatnya.

Aku menghadap ke arah Makam Nabi, berlawanan dengan arah kiblat. Aku menziarahi Makam Nabi dengan penuh kerendahan hati dan tidak meninggikan suara. Sambil berbaris rapi bersama para peziarah lainnya, aku mengucapkan salam kepada Nabi, “Selamat sejahtera atasmu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Ya Allah, berikankah shalawatmu ke atas Muhammad dan keluarga Muhammad, seperti Engkau berikan shalawat atas Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Berkatilah Muhammad dan berkatilah keluarga Muhammad seperti Engkau berkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Aku bersaksi bahwa engkau adalah pesuruh Allah yang benar, engkau telah sampaikan risalah Allah, engkau telah laksanakan amanah, engkau juga telah berjuang di jalan Allah dengan sebenar-benarnya perjuangan dan engkau telah menasehati umatmu. Maka terimalah ganjaran dari Allah sebagai ganjaran seorang Nabi atas umatnya.”

Kemudian aku bergerak ke kanan sedikit dan aku memberi salam kepada sabahat Nabi, Abu Bakar, dengan ucapan, “Selamat sejahtera wahai khalifah Rasulullah. Selamat sejahtera wahai sahabat Rasulullah di dalam gua. Selamat sejahtera wahai penyimpan rahasia yang setia. Terimalah ganjaran dari Allah sebagai balasan imam pemimpin umat Nabi-Nya. Salam sejahtera dan rahmat Allah atasmu.”

Lalu aku bergerak ke kanan sedikit dan aku memberi salam kepada sahabat Nabi, Umar bin Khattab, dengan ucapan, “Selamat sejahtera wahai yang menonjolkan Islam secara terang-terangan. Salam sejahtera wahai yang diberi gelar Al-Faruq. Salam sejahtera ke atasmu yang senantiasa berbicara benar serta memelihara anak yatim dan menghubungkan kasih sayang. Dengan engkaulah Islam menjadi kuat dan teguh. Maka terimalah salam sejahtera serta rahmat dari Allah ke atasmu.”

Setelah berziarah ke Makam Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, aku kembali ke hotel untuk beristirahat menjelang shalat Ashar.

*H. Tirtayasa, S.Ag., M.A. adalah Pemilik Nama Pena Ibnu Yasin Al-Hajj Al-Hafizh, Narasumber Dialog Interaktif Agama Islam (LIVE) Indahnya Pagi TVRI Nasional, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, Imam Besar Masjid Agung Natuna, Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Natuna, Widyaiswara Muda pada Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau, Penulis Buku “Dalam Naungan Mukjizat Cinta (Antologi Fiksi Penggugah Jiwa) dan “Dalam Naungan Keagungan Cinta (Novel Spiritual Penggugah Jiwa)”.

Ditulis Oleh Pada Rab 12 Feb 2014. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek