'
| | 897 kali dibaca

BBM Kembali Langka di Lingga, Polda di Minta Bertindak

Salah satu kios minyak yang di Lingga yang mengalami kesulitan akibat pengurangan jatah BBMnya.

Salah satu kios minyak yang di Lingga yang mengalami kesulitan akibat pengurangan jatah BBMnya.

Lingga, Kepri Info-Kelangkaan minyak tanah dan solar kembali terjadi di kabupaten Lingga, kali ini menimpa masyarakat di kecamatan Senayang dan Lingga utara. Masyarakat mengeluhkan sulitnya mendapat minyak tanah (mitan) dan solar. Padahal kedua bahan bakar minyak (BBM) tersebut menjadi kebutuhan sumber pengerak ekonomi masyarakat di wilayah yang terdiri pulau-pulau kecil tesebut. Apalagi keseharian merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat baik ibu rumah tangga maupun nelayan.

Zainal, masyarakat kecamatan Senayang salah satunya menjelaskan, kesulitan mendapat BBM (solar dan mitan) menimbul keresahan dan akibat kelangkaan tersebut pergerakan ekonomi menjadi terhambat, di karenakan warga yang hampir seluruhnya memanfaatkan kedua bahan bakar tersebut.”Sampai sekarang belum menemui jalan keluar dan belum di ketahui apa penyebab kelangkaan. Kasihan melihat masyarakat, setiap hari mengeluhkam sulit mendapat mitan dan solar.”keluhnya.

Camat Senayang H Kamaruddin ketika di konfirmasi wartawan mengakui,”Sebenarnya, sebelum BBM masuk pangkalan, masyarakat memang merasa sulit mendapat solar dan mitan. Namun, sekarang sudah masuk pangkalan tapi tidak mencukupi kebutuhan masyarakat Kecamatan Senayang dalam satu bulan,”terangnya, Selasa (11/11).

Kekurangan itu disebabkan adanya pengurangan kuota solar dan mitan dari pertamina.”Sementara, jumlah penduduk Senayang setiap tahun terus bertambah, sedangkan kuota di gunakan mengacu pada Tahun 2007. Dari data estimasi 2007, Senayang mendapatkan 400 Ton solar dan 400 ton mitan selama satu bulan. Anehnya, dari pangkalan mengatakan ada pengurangan 10 Persen solar dan 10 Persen mitan. Padahal jumlah penduduk terus bertambah, semestinya kouta harus di tambah bukan di kurangi,”ujar H Kamaruddin.

Menurut camat Senayang tersebut, Tahun 2007 Jumlah penduduk Kecamatan Senayang 17 Ribu Jiwa, Tahun 2014 mencapai 21 ribu jiwa belum lagi penambahan jumlah kendaraan, baik kendaraan roda dua, speed boat, kapal pompong nelayan maupun kapal besar lainya.”Setelah di kurangi 10 persen, rencana pertamina kembali melakukan pengurangan 10 Persen, sampai sekarang ini belum dia ketahui apa penyebabnya. Sementara pihak pangkalan tidak ada memberi laporan ke kecamatan berapa kuota BBM diperlukan selama satu bulan. Jika di lakukan pengurangan kembali, sudah jelas semakin memperparah keadaan keparahan di masyarakat.”paparnya.
Ditambahkan.”Kalau untuk minyak tanah bukan hanya untuk keperluan ibu rumah tangga saja, nelayan yang mengunakan seperti kelong, nyomek, nembak ketam, nyondong bilis dan beberapa jenis nelayan tangkap lainnya,”imbuhnya.
Sementara itu salah satu masyarakat lingga, Drs H Musfar MM, menuturkan bahwa sampai saat ini tim pengendalian BBM subsidi di lingga terkesan tidak bekerja, apalagi dengan kondisi lapangan, harga minyak dengan takaran 1,5 yang biasa di jual dengan botol air mineral seharga kisaran 14 sampai 15 ribu.”Kalau kita perhatikan, harga dengan takaran botol tersebut, harga minyak bensin di Lingga kisaran Rp 9.000 sampai Rp 10.000, jadi harga itu melebihi harga yang telah di tetapkan pemerintah.”katanya.
Dengan kondisi seperti ini.”Kita menilai dengan harga hampir sama BBM non subsidi. Di bandingkan dengan wilayah kabupaten di provinsi kepri ini. Dengan harga sekitar Rp 6 500 per liter premium Subsidi.”tambahnya.

Dirinya meminta kepada aparat penegak hukum khususnya Kapolda kepulauan Riau untuk segera melakukan tindakan hukum.”Kita meminta Polda tidak hanya menertibkan di Batam, Tanjungpinang dan lainya, namun tolong juga di tertibkan di Lingga, terkait adanya dugaan penyimpangan terkait kebijakan pemerintah pusat mengenai BBM bersubdid ini. Sebab kelangkaan BBM di lingga sudah sering terjadi,”harapnya (amin)

Ditulis Oleh Pada Rab 12 Nov 2014. Kategory Lingga, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda