| | 693 kali dibaca

BACIN

Iwan Kurniwan SH

Oleh : Iwan Kurniawan SH

Awang, Timah, & Ujang. “Timah…..Tiimaahh…..Tiiimmmaaahhh…..sudah awak siapkan segala keperluan abang untuk melaut malam ini???!!!”,  tanya dan seru Awang kepada isterinya. Timah yang saat itu sedang menggoreng ikan asin pari dan memanaskan gulai sayur nangka di dapur rumahnya, seketika menjawab,  “Sudah bang, semua sudah Timah siapkan”.
Mendengar  jawaban dari bininya, Awangpun merasa puas, sebab segala keperluannya malam ini telah ready, hanya tinggal turun melaut saja, pikirnya.
Selang beberapa menit kemudian, dari arah dapur, terdengar pula  bininya memanggil Awang,  “Bang….bang….bang Awang…..makan malam sudah siap, makanlah cepat,  selagi masih hangat”, teriak Timah memanggil sekalian mengingatkan lakinya.
Tanpa berpikir panjang,  Awangpun  bergegas menuju  meja makan yang terletak di dapur rumah mereka.

Sebenarnya, sedari tadi  sejak lubang hidungnya mencium aroma ikan asin pari yang sedang digoreng bininya, perutnya sudah krencang krencong melantunkan lagu keroncong 60-an. Apalagi dipadukan dengan sayur gulai nangka, sambal belacan,  dan nasi panas, huuuuuuuaaaaaahhhhhhh…….., semakin terasa lapar berat-lah perut si Awang.
Tanpa ba….bi…..bu…..lagi, dengan lahap disantablah hidangan makan malam made in bininya dengan lahap. Saking lahap-nya, dia-pun sampai terbegek dan tersedak-sedak. “hhhuuuaaakkk……hhhhuuuuaaaakkkk……hhhhuuuuaaaakkkkk”.
Melihat laki-nya terbegeg dan tersedak-sedak, Timah-pun bergegas mengambil segelas air putih hangat, lalu diberikanlah kepada lakinya seketika.
“Bang, cepat minum air puteh ini. Abangpun makan terlalu semangat, tak mau pelan-pelan, seperti orang tak dapat makan seminggu saja”, ketus Timah, seraya mengingatkan si Awang.
Setelah minum beberapa teguk air puteh hangat, sedukan Awang-pun seketika berhenti. Lalu diapun melanjutkan kembali makan malamnya, tetapi tidak lagi selahap sebelum dia tersedak-seduk.
Acara makan malam bersama bininya telahpun usai, dan seperti kebiasaannya sehari-hari, selepas  makan Awangpun menikmati sebatang rokok kretek sambil menghirup secangkir kopi hangat.
Kalau ditanyakan pada Awang, “Saat itu, serasa dunia adalah miliknya”. Apalagi dia baru saja selesai menyantab makanan kesukaannya sejak  kecil,  paket nasi puteh, sayur gulai nangka, sambal belacan, dan ikan asin pari yang kesemuanya disaji masih hangat.
Sekira jam 9 malam, Awangpun bersiap-siap turun ke laut.
Sebagai seorang nelayan tradisional, peralatan,  dan perlengkapan   melautnya-pun sangat sederhana. Setiap  kali turun melaut, dia  hanya menggunakan kapal pompong  mesin engkol buatan China, beberapa gulung tali pancing dengan ukuran tali halus sampai ke tali kasar, beberapa biji mata kail segala ukuran, bandolan terbuat dari bahan timah, umpan udang dan beberapa ekor ikan kecil. Perlengkapan seperti sebatang tombak,  serampang, tanggok, parang, kerambah,  lampu  strongkeng, peti gabus tempat menyimpan ikan berikut dengan es, dan pisau. Rokok, sebotol kopi, dan roti gabin sudah barang tentu turut dibawanya pula.
Dan seperti biasanya,   setiap kali melaut,   dia selalu  membawa seorang teman untuk dijadikannya kawan bercakap dan membantunya selama  mencari dan  memancing ikan di tengah laut.
Sudah sekian tahun lamanya, dia selalu membawa Ujang sebagai teman mancingnya.
Namun malam itu,  Ujang tak dapat ikut turun melaut karena sedang menderita demam panas dan sakit kepala. Oleh karena  Ujang tak dapat turun bersamanya, maka si Awangpun meminta Atan tetangga sebelah rumah-nya. Untunglah Atan waktu itu tidak ke luar rumah, sehingga bisa menemani Awang melaut mencari ikan.
Sebelum berangkat melaut,  tak lupa pula Awang  mengingatkan Timah, agar melihat Ujang  sekalian mengantar makan malam dan obat demam untuknya.

Awang dan Bujang sebenarnya tinggal se-atab tetapi tidak serumah. Rumah panggung yang dia dirikan di atas bibir pantai dan dekat hutan bakau, pada awal dibangun, dikerjakan oleh Awang dan  Ujang. Oleh karena Awang sudah menikah, sementara  Ujang belum maka guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan dan pandangan negative masyarakat disekitar tempat mereka tinggal, maka rumah panggung yang mereka bangun bersama, diberilah jarak selebar lebih kurang 1 meter. Sementara lantai panggung, pelantar  rumah, dan atab rumah, mereka jadikan satu. Lorong selebar 1 meter itulah yang membedakan bangunan rumah si Awang dan si Ujang.

Dari sisi usia, antara Awang dan  Ujang cukup jauh berbeda, di mana diantara keduanya ber-selisih hamper 7 tahun.  Saat ini Awang berusia 30 tahun, sementara  Ujang baru berusia 23 tahun. Dan bininya Timah berusia  27 tahun.
Selama ini baik Awang maupun Timah sudah mengganggap  Ujang sebagai adik angkat mereka. Apalagi  Ujang bukanlah anak asli kampong mereka alias anak rantau.  Ujang telah lebih kurang 10 tahun hidup dan tinggal di kampong mereka. Sejak pertama kali dia masuk dan tinggal di kampong nelayan tersebut,  Ujang sudah berteman dengan si Awang, bahkan sebelum Awang menikahi si Timah.
Hubungan persahabatan antara Awang dan Ujang sangat baik, selama ini antara mereka boleh dikata tidak pernah bertengkar, bahkan sebaliknya Ujang sangat menaruh hormat pada Awang yang dianggapnya sebagai abang angkat.
Kain Kemban Melorot.
Awang dan Timah baru menikah lebih kurang 2 tahun lamanya, dan sampai hari ini mereka belum juga dikaruniai seorang anak-pun jua.
Oleh karena  antara Awang dan  Ujang  sudah berteman akrab dengan suaminya cukup lama, bahkan sejak sebelum mereka menikah, maka selama ini Timah tidak pernah berpikiran macam-macam tentang si  Ujang. Walaupun, terkadang sekali-kali  Timah pernah juga  beberapa  kali memergoki sudut  mata Ujang  mencuri  pandang  dirinya.  Namun bagi Timah hal itu dianggapnya biasa dan sebuah kewajaran. “Ujang juga kan manusia, yang punya nafsu dan selera………yaaaaaoooooouuuuuu**@@**””???!!….
Suatu ketika pada suatu hari, mata Ujang betol-betol melotot seperti ikan belontok naik ke darat, setelah mendapat peluang tak terduga, tersebab  kain  kembanan Timah tiba-tiba terlepas,  dan  kebetulan  saat itu  si  Ujang berada dihadapan  dirinya. Hal itu sama sekali tidak disengaja oleh si Timah, kebetulan saja dia sedang mencuci pakaian di bilik mandi belakang rumah panggungnya. Ketika sedang asik dia mengucek-ngucek  dan memberos pakaian dalam si Awang, dari arah pintu depan rumah terdengar suara ketokan, sambil memanggil-manggil namanya. Tanpa  terlebih dahulu mengetatkan  dan membetulkan kembali selipan kain kembannya. Diapun bergegas membuka pintu rumah, ternyata yang mengetuk daun pintu rumah itu adalah  Ujang.

Seperti biasanya setiap pulang melaut,  Ujang terlebih dahulu akan mampir ke rumahnya untuk memberikan ikan hasil tangkapan mereka buat dijadikan lauk pauk mereka sehari-hari.   Sementara laki-nya  si Awang, masih tinggal di pasar menjual hasil tangkapan ikan mereka kepada Toke Atai, yang sudah bertahun-tahun lamanya menampung ikan hasil tangkapan Awang. Kemudian seperti biasanya pula, sebelum pulang,   Awang selalu berbelanja segala keperluan rumah tangga mereka, mulai dari beras, minyak tanah, minyak makan, gula, telur, indomie, garam, bawang, cabe, dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan hidup mereka.
Oleh karena Timah tadi terburu-buru ditambah lagi kain kembanannya bagian bawah basah kuyub karena terendam air sehingga menjadi lebih agak berat,   dan  disaat  dia buru-buru membuka pintu depan rumahnya, dengan  seketika pula  dan tanpa diduga dan tanpa sama sekali disengaja  olehnya, tiba-tiba kain kemban yang menutupi tubuh polosnya yang putih mulus melepak  itu, seketika  melorot ke bawah, celakanya  saat itu dihadapannya  sudah berdiri si  Ujang, dan dengan reflex pula Timahpun menjerit tertahan karena terkejut dan merasa malu.  Sementara  Ujang, sesuai dengan kodratnya sebagai seorang laki-laki normal dan masih muda belia, dengan seketika pula  ternganga dan melotot  tajam memandang keindahan tubuh polos si Timah. Untung saja pada saat itu Timah  masih mengenakan celana dalamnya yang berwarna biru muda,  kalau tidak mahkota terindah miliknya terlihat pula oleh si Bujang ting-ting, bukan Ayu Ting-Ting yaaaaaa.
Singkat cerita, sejak terjadinya peristiwa yang tidak disangka-sangka itu,   baik si   Ujang maupun Timah sepertinya  merasa serba salah dan berusaha  untuk saling menjaga jarak. Hubungan mereka  tidak lagi seakrab dan sehangat seperti hari-hari biasa sebelum terjadinya peristiwa tersebut.
Biasanya  Ujang maupun Timah, baik ada ataupun tidak ada Awang, mereka  selalu  bercanda dan bersenda gurau, bahkan terkadang  Ujang selalu diolok-oloki oleh Timah, misalnya seperti  bertanya  “Kapan lagi engkau mau menikah Jang. Nanti keburu tua, jadi betul-betul Bujang telajak”, gurau Timah kepada si Ujang.
Kalau sudah ditanyai tentang nikah, maka dengan seketika pula, Ujang teringat pula sebuah lagu yang dipopulerkan oleh  Datok S.M. Salim, penyanyi kesohor dari negeri Seberang, judul “APE NAK JADI”.
Ape nak jadi…..ape nak jadi. Sudahlah tue tak kawin lagi. Ape nak jadiiiii…..
Bahkan Timah juga terkadang berbicara suka ceplos ceplos dengan si  Ujang, misalnya, “Jang…. kalau dah kawin, makan,  tidur, mencuci pakaian, dan sebagainya sudah enak. Apalagi kalau malam ada yang menemani, ditambah lagi hujan…..uuuuaaahhhhh…..suasananya semakin mantaaabbb….dan romantiiiisss. Makanya, rugilah, kalau engkau tak kawin-kawin”, tutur Timah dengan semangat, seraya memanasi si Ujang. Lalu melanjutkan khotbahnya pada si Ujang, “Dara, Joyah, Minah,  Ayu, Santi, Monika, Maryam,  Aling,  Chensia, tinggal engkau pilih saja. Aku lihat, mereka semua ada menaruh minat sama engkau”, sambil meyakinkan dirinya.
Mendengar olok-olokan dari si Timah, biasanya  Ujang  akan membalas  olokan tersebut sambil bergurau, “Kalau begitu, kak Timah dan bang Awang enaklah….. ya. Tapi kok belum dapat anak juga. Mungkin, kak Timah selalu menolak  memberi    jatah kepada  bang Awang ya. Kalau saya lihat, bang Awang itu, orangnya kuat…..pasti kak Timah tak sanggup berlaga tandeng dengan bang Awang…..hahahahahahahahahaha”, sindir Ujang sambil tertawa terkekeh…kekeh…..
Mendapat  jawaban dan serangan balik dari si  Ujang, Timah bukannya menyerah, bahkan dia langsung  membalas olokan si  Ujang, “Engkau salah Jang. Bukan aku yang tak sanggub,  tapi bang Awang. Lihat dari muka, memang bang Awang  seram dan kuat, tetapi kalau ditempat tidur, dia selalu kalah Jang, baru beradu saja, sudah terkapar, bagaimana mau jadi”, ceplos  si Timah tanpa basa basi, sambil tersenyum terkadang disertai jelingan mata manja dan menggoda si Ujang.
Namun biasanya kalau sudah kecoplosan seperti itu,  dengan seketika pula  si Timah memperbaiki  gurauannya  kepada si  Ujang, “Jang,…..jangan engkau tanggapi betul omongan kakak ya, kakak hanya bergurau saja. Memang kakak yang belum mau  punya  anak, sebab kalau sudah ada anak,  kakak tak bebas lagi, mungkin tahun depanlah kakak  buat program  dapat anak dengan bang Awang”.
Begitulah biasanya mereka selalu berbicara dan saling bergurau senda, sebagaimana layaknya kakak dan adik, meskipun hanya adik beradik angkat.
Berbeda dengan si Awang, karakter Awang pendiam dan tidak banyak bicara. Bahkan kalau mereka sedang duduk bertiga  baik di luar  maupun di dalam  rumah, yang banyak omong  hanyalah Timah dan   Ujang. Awang hanya bicara jika diajak saja. Itupun yang keluar dari mulutnya  hanya satu atau dua patah kata, tidak lebih. Terkadang hidup berdua dengan si Awang memang membosankan. Atau karena dia dari kecil sudah jadi nelayan pemancing ikan.
Ingat kata tok Mat,   setiap pemancing pasti tidak banyak bicara, mereka selalu melamun,  konsentrasi,  sambil menunggu ikan menyentuh dan memakan umpan pancingnya. Kebiasaan selalu memancing ikan pula yang mungkin mempengaruhi watak si Awang……”Buaye atau kataklaaaahhhh…..betol atau tidak…..kitepun tak tauuuuuu?????
Pada saat, Awang sudah berada dalam motor pompongnya, sekali lagi dia ingatkan kembali pada bininya si Timah, “Mah, jangan lupa tengok si  Ujang, bawakan dia nasi dan obat, kasihan dia”, pekik Awang seraya mengingatkan bininya kembali agar tidak lupa melihat si  Ujang yang sedang terbaring lemah karena terserang demam panas tinggi.
Pergolakan Batin
Karena mendapat perintah dari suaminya, si Timahpun tak berani membantah, dan dengan berat hati  pula,  diapun mengantar sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya  serta  membawa obat demam panas buat si  Ujang.
Ketika dia masuk ke rumah si Ujang, kebetulan  lampu strongkeng rumah-nya  bersinar redup, mungkin karena belum  dipompa  dengan kencang. Karena mengerti dengan kondisi si Ujang yang lagi sakit, tanpa diminta oleh si  Ujang, Timah-pun menurunkan  lampu strongkeng yang redup itu, lalu memompa lampu itu agar lebih terang, celakanya setelah lampu tersebut memberikan cahaya yang terang benderang, terlihatlah olehnya  dengan jelas  Ujang sedang terbaring tanpa mengenakan  baju dan hanya diselubungi  sehelai kain sarung Kalimantan miliknya. Yang mana kain sarung itu tersingkap pula sampai ke batas atas persimpangan pahanya.
Melihat batang kaki dan paha  Ujang yang berisi padat,  berwarna  kuning langsat muda,  dan berbulu lebat,  dengan seketika mendesir pula darah kewanitaan si Timah.  Maklumlah, selama menikah dan selama dia beranjak dewasa, Timah tidak pernah melihat bentuk tubuh lelaki dewasa, yang dipandangnya setiap hari hanya-lah  milik si Awang laki terkasihnya.
Hal itu sebenarnya tidak disadari dan diminta olehnya.  Namun desiran itu datang seketika dan tiba-tiba. Bahkan sejenak tubuh dan bibirnya sedikit bergetar menyaksikan pemandangan itu.  Dan anehnya, untuk beberapa saat matanya yang indah berpupil bulat berwarna coklat tua sedikitpun tidak berkedip menyaksikan sekujur tubuh bidang Ujang yang bertelanjang dada. Entah darimana pula pikiran negatifnya pula timbul sekonyong-koyong, mencoba membandingkan bentuk tubuh Ujang dan lakinya si Awang.  Secara fisik   baik bentuk tubuh, warna kulit dan ketampanan, antara Ujang dan Awang memang jauh berbeda.   Awang sebagai anak asli kampong nelayan memiliki  warna kulit  gelap, berambut ikal,   dan tidak berbulu lebat.
Diakui oleh batin-nya, selama ini Timah memang  tidak pernah   memperhatikan detail bentuk fisik dan raut wajah si  Ujang.  Sebenarnya   Ujang memiliki bentuk tubuh yang atletis dan raut wajah  tergolong tampan. Berdasarkan pengakuan si  Ujang, sebenarnya dia berasal dari daerah Sengkawang Kalimantan,  beribukan  orang  Melayu  campur Arab, dan bapak  keturunan  negeri  Cina. Makanya bentuk tubuh dan wajah  si  Ujang  mempunyai karakter tersendiri  berbeda dengan penduduk kampong nelayan tersebut.
Hanya selama ini, karena bekerja  sebagai seorang nelayan,  penampilannya tidak pernah diurus, bahkan mungkin sama sekali tak sempat diurusnya. Walau  demikian, masih saja banyak anak dara di kampong itu, bahkan beberapa orang janda kembang, menaruh minat kepadanya, seperti yang pernah diucapkan oleh Timah, kakak angkatnya.
Sesaat si Timah masih terkesimak memandang sekujur tubuh Ujang, mulai dari raut wajahnya, dadanya yang berbulu lebat, kaki  dan paha-nya.  Dan ketika itu pula  Ujang  berbalik seraya mengangkat kakinya untuk berbalik arah tidurnya, dan tanpa disengaja pula si Timah sepintas sempat melihat parang panjang khas Kalimantan “MANDAU” milik si  Ujang yang sedang berdiri tegak menantang langit-langit rumah-nya.
Semakin tersekat dan tertahanlah urat nafas si Timah, yang diiringi naik turun nafas dan detak jantungnya yang semakin kencang.
Untuk beberapa saat tubuhnya terasa ingin melayang dan limbung jatuh kelantai……namun dengan seketika itu pula dia tersadar lalu cepat bangkit berdiri, dengan sigap  meletakkan kembali lampu strongkeng ketempatnya semula.
Kemudian dengan  cepat  pula dia segera mendekati si  Ujang, dan tanpa memandang ke arah Ujang, dia mencoba membangunkan sambil menggoncang-goncangkan tubuh Ujang, dengan berkata, “Jang…..Jang …… Jang….. bangun…..bangun…., makan dulu, dan makan obat ini”.
Beberapa saat kemudian,  Ujangpun  mengerang sambil menggeliat lalu  berkata, “Eeeehhhhh……ooooohhhhh……kak Tiimmaaahhh…..ya…..kak…..baik….., Jang bangun, tapi tolong kakak suapkan Ujang makan dan minum obat ya, badan ujang masih lemah dan lemas sekali”, ujar Ujang dengan suara  pelan  sambil sedikit mengerang menahan sakit kepala yang teramat sangat.
Sebenarnya Timah mau menolak permintaan adik angkatnya itu,  tetapi karena merasa kasihan dengannya, dan selama ini  Ujangpun sebenarnya tidak pernah bersalah kepadanya maupun kepada lakinya, bahkan sebaliknya ia  telah pula banyak membantu  keluarganya.
Dan dengan berat hati, dia sanggup-kan  juga permintaan si  Ujang seraya berkata, “Baiklah Jang, cepatlah bangun dan duduk, biar kakak suapkan engkau makan”.
Dengan berat dan sedikit memaksakan diri, si  Ujang  berusaha  untuk bangun dari baringnya dan duduk ditepi dipan, tetapi seketika itu pula tubuhnya roboh.
Melihat si Ujang sulit untuk bangun dan duduk, maka si Timahpun berkata, “Jang, …., sudahlah, Ujang berbaring saja, dan biar kakak  suapkan pelan-pelan”, ujar si Timah.
Dengan penuh  perhatian sebagaimana kakak dan adik,  Timahpun menyuapkan  Ujang makan, sambil sekali-kali memberikan minum air puteh, agar makanan yang dikunyahnya cepat larut.
Selesai menyuapkan  Ujang makan, Timahpun segera memberikan Ujang 2 butir obat penurun panas dan obat pengurang sakit kepala.
Memang saat itu, tubuh Ujang masih terasa panas, lalu setelah Ujang diberikannya obat, Timahpun ke dapur mengambil  Waskom  berisi air dingin dan sehelai handuk kecil. Handuk itu dibasihi  olehnya kemudian ditaruhnya di atas dahi kepala si Ujang.
Setelah itu, Timahpun berpamitan kepada  Ujang, “Jang, kakak tinggal dulu ya. Ujang istirahat saja dulu.Kalau handuk ini sudah terasa kering, rendam lagi dengan air yang di dalam baskom ini”.
Tanpa terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari si Ujang,  Timahpun bergegas kembali ke rumahnya.
Baru saja,  dia menutup daun pintu rumahnya, tiba-tiba dari atas langit terdengar suara guruh menggelagar dan diringi kilauan kilat dan suara petir memecah cakrawala dimalam yang gulita itu.
Seorang diri, diapun berkata, “Walaaahhh…..bagaimana ya, mau hujan lebat nampaknya”.
Lalu, diapun secepatnya menutup dan langsung mengunci daun pintu rumahnya tersebut.
Dalam kesendiriannya di atas pembaringan, seketika Timah teringat lakinya  Awang yang sedang melaut. Ada juga terbersit rasa khawatir dalam dirinya. Timah takut, kalau lakinya sedang berada ditengah laut dalam kondisi cuaca hujan lebat seperti ini. Dia sangat berharap dan berdoa, semoga lakinya dapat mencari tempat berlindung yang aman.
Awang memang benar-benar nelayan yang memiliki  bekal pengalaman yang cukup,   Dia sudah menduga  akan turun hujan lebat malam ini. Untuk itu,  sebelum hujan turun dia segera mencari tempat berteduh yang cukup aman tak jauh dari tempatnya memancing.  Kebetulan di sana terhadapat sebuah kelong ikan bilis   yang cukup besar. Makanya sebelum hujan turun, dia sudah melajukan pompongnya ke arah  kelong tersebut. Belum sempat dia merapat dan menambatkan tali  pompongnya,  tiba-tiba hujanpun turun dengan sangat lebat diiringi suara gelegar dan kilauan kilat dan petir.   Buru-buru Awang dan Atan menambat motor pompongnya lalu bergegas memanjat tangga kayu menuju pelantar kelong belis tersebut. Ternyata di atas kelong tersebut, dia bertemu dengan 2 orang penjaga kelong, dan mohon izin untuk berteduh. Penjaga kelong tersebut tidak keberatan, dan mengizinkan Awang untuk berteduh di sana.
Bacin
Sementara Timah, di atas pembaringannya, terus saja gelisah. Saat ini, dia tidak lagi memikirkan lakinya si Awang, tetapi pikirannya  telah  pula terbang   pada  si Ujang adik angkatnya. Tiba-tiba dia merasa kasihan dengan si Ujang yang sedang menderita demam panas. Ada juga terbersit keinginannya untuk menjenguk  kembali si Ujang disebelah rumahnya. Namun buru-buru niat itu dikubur olehnya, selain merasa tidak enak, dan suasana diluar yang masih hujan lebat diiringi kilat, guntur, guruh, dan petir yang terus menerus menggelegar membuatnya semakin takut untuk ke luar rumah.
Suasana malam yang disertai hujan lebat dan semilir angin bertiup kencang, menambah kesendiriannya semakin menjerat dan membelenggu dirinya. Apalagi saat ini, pikirannya kembali melayang pada sekujur tubuh Ujang yang sedang bertelanjang dada dan dengan kain sarung tersingkap sampai pada batas pangkal pahanya yang padat berotot dengan senjata khas Mandau Kalimantan-nya yang sedang berdiri tegak mengarah ke atas. Bayangan sosok Ujang terus menerus mempermainkan pikirannya. Apalagi sudah hamper 2 minggu lamanya dia tidak sempat disentuh oleh si Awang. Sementara naluri kewanitaannya  menuntut terus menerus untuk mendapatkan belaian dan kasih sayang dari Awang semakin memuncak.
Kualitas nafsu birahinya yang semakin menggeliat dan menggelora seperti gelombang laut China Selatan yang sedang mengamuk dan menggelora menunjukkan keangkuhannya.
Sebagai seorang bini yang setia dan amanah, dia telah berusaha  sekuat tenaga untuk mengingat-ingat hubungan  kasih asmara dan percintaan  dengan suami tercintanya. Namun semakin dia berusaha  melambungkan fantasinya dengan si Awang,   semakin melonjak pula volume energy panas dirinya.  Sementara mahkota Hawa miliknya, terus mengerenyam meminta untuk dikasihani dan diperlakukan secara nyata, tidak hanya setakat ilusi yang semakin menyiksa jiwanya.
Situasi yang demikian semakin membuatnya serba salah, dan tidak tau mau berbuat apa. Sementara suara hujan diluar semakin garang menimpa atap rumahnya. Tiupan angin laut terus bertiup kencang  sampai  merambah masuk disela-sela lubang angin rumahnya yang terbuat dari dinding-dinding papan, sehingga  suasana di dalam kamarnya semakin dingin.
Dalam suasana pergulatan jiwa  yang kian   gelisah, tanpa disadari olehnya, dia mencoba untuk menuntaskan hasratnya sendiri tanpa dibantu oleh sang suami. Namun usahanya itu sia-sia dan gagal. Sebaliknya jiwa dan urat-urat kewanitaannya terus menerus menekan dirinya dan memberontak untuk diperlakukan secara alamiah sebagaimana lazimnya.
Apakah karena factor kebingungan yang teramat sangat menghadapi dorongan yang semakin kuat mendesak dirinya, atau bermaksud ingin melepaskan diri dari tekanan jiwa yang teramat menyiksa itu, dan atau karena sebab-sebab lainnya, entah mengapa, dia bangkit dari pembaringan dan kegelisahannya, lalu membuka jendela kamar tidurnya.
Sebenarnya dia juga tidak mengerti, untuk apa dia membuka jendela kamar tidur-nya, sementara dia mengetahui malam itu hujan masih mengguyur lebat disertai dengan angin berhembus kencang. Sesaat setelah jendela kamar itu dibuka, seketika siksaan batinnya turut melayang di bawa hembusan angin dan arus hujan yang turun deras.
Ploooooonnnnnnggggggg rasa jiwa-nya, beberapa detik segala tekanan itu lenyap dalam dirinya yang dilanda kegalauan.
Namun sebaliknya, berawal dari membuka jendela ini pula, timbul persoalan baru yang akhirnya membawa dirinya hanyut dihempas garangnya ombak sampai ke tengah lautan tak bertepi, hinggakan ia terkapar lemas tak berdaya.
Timah sangat terkejut, setelah mengetahui rumah si Ujang dalam keadaan gelap dan hanya terdapat  setitik  berkas cahaya bersumber dari sebuah lampu petromak yang tidak lagi bersinar terang.
Mengingat si Ujang masih dalam keadaan sakit dan belum bisa bangun, dengan reflex diapun langsung bergegas ingin membantu si Ujang.
Hal itu sebenarnya hal yang wajar dan mungkin berlaku untuk semua orang, apalagi hubungan  antara dia dan Ujang sudah seperti saudara sekandung. Oleh karenanya wajar pula jika, Timah merasa iba dan kasihan dengan kondisi Ujang saat itu.
Pintu rumah Ujang memang tidak terkunci dan hanya ditutup rapat. Dengan mudah pula Timah membuka pintu,  lalu masuk ke dalam rumah-nya. Kembali Timah  ingin memperbaiki lampu petromak yang tidak lagi bersinar terang.
“Walaaahhhh, pantasan lampu ini semakin redup, rupanya sudah kehabisan minyak”, ujar Timah seorang diri.
Sesaat Timah dibuat bingung, sebab cadangan minyak tanah yang dimilikinya juga sudah tipis, kemudian kaos sebagai sumbu petromak harus diganti karena telah hangus dan bolong.
Singkat cerita, lampu  petromak itu,  malam ini tidak bisa digunakan terlebih dulu. Sebagai pengganti-nya dia harus menyalakan lampu cangkok, agar rumah itu tidak gelap gulita. Kasihan si Ujang, jika tidur dalam keadaan gelap gulita, apalagi sedang sakit, “pikirnya”.
Dengan hanya mengharapkan cahaya terang dari kilatan petir di atas cakrawala, lalu Timahpun mendekati tempat pembaringan si Ujang. Tidak sulit bagi Timah menemukan tempat pembaringan itu, karena rumah Ujang tidak memiliki kamar dan hanya berukuran 4 x 5 m saja. Maklumlah rumah anak bujang.
Sesampainya ditempat pembaringan Ujang, Timahpun berusaha membangunkan si Ujang dengan  menepuk-nepuk tubuh si Ujang seraya berkata, “Jang…..Jang….Jang…..bangun. Kakak mau nanya, Ujang taruh lampu cangkok di mana?”, kejut dan tanya Timah kepada Ujang.
Mendapat kejutan dan suara yang datang tiba-tiba dan dalam keadaan gelap gulita, Ujang yang saat itu masih tertidur nyenyak,  dengan reflex dan sangat cepat menangkap tangan si Timah. Gerakan si Ujang teramat sangat cepat buat si Timah, sehingga Timah tanpa sempat berpikir terjatuh ke dalam pelukan si Ujang.
Beberapa saat dekapan Ujang begitu kuat, membuat Timah sulit untuk bergerak, bernafas, dan bersuara. Dia hanya bisa merintih karena terkejut, dan dengan lirih berkata, “Aduuuhhhh Jang, lepaskan kakak, ini kak Timah….”.
Mengetahui dan mendengar yang didekapnya ternyata  si Timah, dan dengan seketika itu pula Ujang melepaskan dekapannya, sambil berujar, “Maaafff kak, maafkan Ujang kak, Ujang tak sengaja, kira Ujang siapa yang menyentuh dan masuk rumah Ujang”.
Berbeda dengan si Ujang yang terkesan penuh dengan penyesalan sambil memohon maaf kepada si Timah, sebaliknya dalam suasana yang gelap gulita, disertai dengan semakin derasnya hujan diiringi pula dengan kerasnya suara Guntur menggelegar, dan kilauan kilat diiringi dentuman petir yang sangat menakutkan, menuntun Timah untuk segera mencari tempat berlindung dan berteduh.
Dan seiring dentuman petir dan gelegar guruh yang kesekian kalinya, Dengan reflex pula Timahpun langsung mendekap si Ujang yang berada disisinya, lalu dengan suara mengeletar setengah berbisik, berkata, “Jang…..jang….kakak….takut. Tolong kakak yaaaa…..”.
Haaaahhhhhh…… Ini yang disebut pepatah “Mana ada kucing menolak ikan”, atau “Mana ada buaya menolak bangkai”, atau “Mata ngantuk disorong bantal”, tanpa panjang lebar lagi jadilah barang tuuuuhhhhh. Aaaiiiiiiyyyoooooiiiiiiiii……matilah guaaaaa……”kata apek kong-kong”…..
Akhirulkalam…..akhirnya ke-2 orang anak cucu Adam dan Hawa yang berlainan jenis dan tidak diijab kabulkan itu diserang oleh pasukan syaitan  yang terkutuk. Dengan berbagai macam cara dan metode, para syaitan itu mempengaruhi akal waras mereka, sehingga mereka terjatuh dalam jurang kenistaan yang teramat dalam.
Mereka tidak lagi peduli bahwa apa yang mereka perbuat adalah suatu dosa besar. Mereka juga tidak peduli apa yang mereka lakukan telah melanggar norma-norma agama, hukum, adat, kebiasaan, dan kesusilaan.
Mereka juga tidak lagi memperdulikan Awang yang saat ini sedang merenungi nasib malangnya  sebagai seorang nelayan tradisional yang sedang menanti teduhnya hujan di atas sebuah kelong bilis di tengah laut.
Seiiring dengan derasnya hujan, Guntur dan guruh yang terus menggelegar,  kilauan kilat dan dentuman petir saling sahut-sahutan, ke dua insane yang sedang dilanda mabuk asmara itu saling mendekap, menyerang,  berpautan beradu tanding seperti layaknya  singa jalang  melampiaskan hasrat yang selama ini terkekang.
Teramat sangat jauh perbedaan dengan si Awang, dihadapan Ujang, Timah dibuat sama sekali tidak  berdaya dan tidak berkutik, entah beberapa kali dia menjerit,  mengerang, mengejang-ngejang menahan lajunya derasan air alaminya yang selama 2 minggu tak tersalurkan.
2 jam lamanya mereka bertarung, dan akhirnya berakhir seiring dengan rintikan hujan yang mereda.
Aroma kasih sayang yang terlarang tersebut  terus berjalan  seiring dengan bau busuk – nya kehidupan mereka yang sudah sekian tahun lamanya mereka jaga dengan baik.
Kijang Lama-Tanjungpinang, 14 Februari 2012

Ditulis Oleh Pada Ming 01 Sep 2013. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek