| | 828 kali dibaca

Air Berbisik

Oleh - Tirtayasa-Ibnu Yasin Al-Hajj Al-Hafizh

Oleh – Tirtayasa-Ibnu Yasin Al-Hajj Al-Hafizh

Hari menjelang Magrib. Aku segera membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat ke Masjid Nurul Muttaqin guna menunaikan shalat Magrib berjamaah. Ayah, ibu, dan adikku, Asiah, sudah mendahuluiku menuju masjid. Usai berkemas, aku bersegera melangkahkan kaki menuju masjid megah yang jaraknya dari kediaman orang tuaku tidak lebih dari seratus meter itu.

Kurang lebih lima meter dari halaman masjid, azan Magrib bergema memecah langit kota kelahiranku yang kuning keemasan. Aku semakin mempercepat langkah. Sesampai di tangga masjid dan ketika hendak memasuki masjid, tidak lupa kuberdoa. Usai berdoa, kudahulukan kaki kanan memasuki rumah Allah yang indah dan menenangkan itu.

Beberapa saat kemudian, azan Magrib usai dikumandangkan. Jamaah diberikan kesempatan untuk menunaikan shalat sunah qabliyah Magrib. Sesaat kemudian, begitu jamaah tampak sudah sempurna mengerjakan shalat sunah rawatib itu, muazin melantunkan iqamah. Usai iqamah, K.H. Mutawalli Sya’rawi yang bertindak sebagai imam, meminta jamaah merapatkan dan meluruskan shaf. Kemudian terdengar kiai kondang itu melafalkan takbiratul ihram dengan gaya Syaikh Al-Khudzaifi, Imam Masjid Nabawi, Madinah. Satu persatu rukun dan sunah shalat Magrib dilalui dengan khusyuk. Begitu shalat Magrib usai, Kiai Mutawalli Sya’rawi memimpin zikir dan doa bersama.

Usai shalat Magrib, zikir dan doa yang berlangsung khusyuk dan khidmat itu, K.H. Mustafa Ismail, kiai kondang yang sengaja diundang dari kota seberang, dipersilakan oleh pengurus masjid untuk memberikan taushiyah. Kiai muda itu segera menuju mimbar. Setelah membuka taushiyahnya dengan salam, basmalah, hamdalah dan shalawat, serta lengkingan sepotong ayat suci Al-Qur’an, Kiai Mustafa Ismail mengawali taushiyahnya dengan mengutip sebuah kisah sebagaimana termaktub dalam Mu’jam Al-Kabir Ath-Thabrani, Majma’ Az-Zawa’id dan Kanz Al-‘Ummal.

Aku dan tidak kurang dari dua ratus jamaah Magrib lainnya dengan tenang dan takzim mendengarkan taushiyah menjelang Isya itu. Tidak lupa aku mencatat dengan cukup detil isi taushiyah dari Kiai Mustafa Ismail. Ini kebiasaanku  sejak duduk di SLTA dulu: mencatat semua isi taushiyah yang disampaikan ustadz-ustadz dan kiai-kiai yang mengisi taushiyah di Masjid Nurul Muttaqin. Berikut beberapa catatan tentang isi taushiyah Kiai Mustafa Ismail.

Dahulu kala, tersebutlah seorang gubernur bernama Amir Ibnu Sa’ad. Meskipun dia telah menetap setahun di Homs, tetapi Amir belum pernah menulis sebuah laporan pun kepada Amirul Mukminin, Umar Ibnu Khattab, dan belum pernah pula mengirim harta rampasan perang sedikitpun. Umar Ibnu Khattab berpikir curiga kepada Amir.  Maka Umar menulis surat kepadanya, “Jika suratku ini telah sampai kepadamu, maka datanglah engkau kemari dan bawalah sejumlah harta rampasan perang yang telah engkau kumpulkan.”

Setelah menerima surat Umar, maka Amir segera menyiapkan perbekalannya, air minum dan kantong air wudhu. Kemudian dia memegang tombaknya dan melangkahkan kaki hingga ke kota Madinah. Dia tiba di hadapan Umar sementara wajahnya pucat, tubuhnya kurus, rambutnya amburadul, dan badannya letih karena telah menempuh perjalanan yang jauh.

Umar terkejut ketika melihat keadaan Amir. Lalu Umar bertanya, “Mengapa keadaanmu seperti ini?”

“Bukankah engkau lihat aku dalam keadaan sehat, darahku bersih dan aku membawa harta semampuku?” jawab Amir dengan nada bertanya.

“Apa yang engkau bawa?” tanya Umar. Umar mengira bahwa Amir membawa harta yang banyak.

“Aku membawa sebuah kantong untuk menyimpan perbekalanku, piring, dan sebuah timba untuk menyiram kepalaku dan mencuci baju. Selain itu, aku mempunyai kantong air untuk wudhu dan minum. Dan tombakku ini untuk tongkatku dan membunuh musuhku. Hanya ini harta yang aku miliki,” jawab Amir.

“Apakah engkau datang kemari dengan berjalan kaki?” tanya Umar.

“Ya,” jawab Amir.

“Apakah tidak ada orang lain yang memberimu kendaraan?” tanya Umar.

“Mereka tidak pernah melakukannya dan aku pun tidak pernah memintanya,” jawab Amir.

“Kalau begitu, mereka adalah seburuk-buruknya umat Islam,” kata Umar.

“Takutlah kepada Allah, wahai Umar. Sesungguhnya Allah telah melarangmu untuk menyebut kesalahan orang lain,” ujar Amir.

“Mengapa engkau tidak membawa harta dari Baitul Mal?” tanya Umar lagi.

“Aku tidak membawa sedikitpun dari harta itu,” jawab Amir.

“Mengapa demikian?” tanya Umar heran.

“Ketika engkau mengutusku ke kota Homs, aku mengumpulkan orang-orang baik di antara mereka, dan mereka kuberi tugas untuk mengumpulkan harta rampasan perang di antara mereka. Setelah mereka mengumpulkannya, maka aku membagikannya kepada mereka dengan baik. Andaikata masih ada sisanya, pasti aku akan membawanya kepadamu,” jawab Amir.

Umar berkata kepada juru tulisnya, ”Perbaharuilah perjanjian bagi Amir untuk memenuhi tugasnya.”

“Tidak. Aku tidak akan menerima tugas itu sedikitpun. Aku tidak akan bekerja untukmu maupun untuk orang lain setelah ini, wahai Amirul Mukminin,” kata Amir. Kemudian Amir minta izin untuk pulang ke rumahnya di ujung kota Madinah.

Umar menyuruh Al-Harits untuk menyelidiki keadaan Amir yang sesungguhnya. Dia disuruh bertamu ke rumah Amir untuk melihat apakah dia mempunyai kekayaan ataukah dia memang miskin, dan Al-Harits dibekali seratus Dinar untuk diberikan kepada Amir jika dia termasuk orang miskin.

Al-Harits datang bertamu ke rumah Amir Ibnu Sa’ad selama tiga malam. Setiap malam, Amir mengeluarkan sepotong roti untuk Al-Harits, tamunya. Pada hari yang ketiga, Amir berkata kepada Al-Harits, “Sesungguhnya kedatanganmu kemari membuat kami lapar. Jika menurutmu engkau dapat meninggalkan kami, maka kerjakanlah, karena kami tidak mempunyai apapun untuk kami berikan kepadamu.”

Pada saat itulah, Al-Harits mengeluarkan uang seratus Dinar dan menyerahkannya kepada Amir.

“Untuk apa ini?” tanya Amir heran.

“Uang ini sengaja dikirim untukmu oleh Amirul Mukminin,” jawab Al-Harits.

“Kembalikan uang itu kepadanya. Sampaikan salamku untuknya dan katakan bahwa aku tidak butuh uang,” ucap Amir tegas.

Mendengar ucapan  Amir, isterinya menjerit, “Wahai Amir, terimalah uang itu! Jika engkau membutuhkannya, maka engkau dapat membelanjakannya. Kalau tidak, maka simpanlah di sini, karena masih banyak yang membutuhkannya.”

Mendengar ucapan isteri Amir seperti itu, Al-Harits meletakkan kantong uang itu di rumah Amir dan dia segera pergi.

Amir memungut uang itu dan segera membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkannya, khususnya keluarga para syuhada.

Al-Harits kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah, Umar bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau lihat keadaan Amir?”

“Keadaannya sangat memprihatinkan, wahai Amirul Mukminin,” jawab Al-Harits.

“Apakah telah engkau serahkan uang itu kepadanya?” tanya Umar lagi.

“Uang itu sudah aku serahkan kepadanya, wahai Amirul Mukminin,” jawab Al-Harits.

“Apa yang dia lakukan dengan uang itu?” tanya Umar.

“Aku tidak tahu. Tapi menurutku, dia hanya menyisakan satu Dinar untuk dirinya,” jawab Al-Harits.

Maka Umar menulis surat kepada Amir Ibnu Sa’ad, “Jika suratku ini tiba kepadamu maka datanglah segera kemari.”

Begitu mendapat surat itu, Amir segera menghadap Amirul Mukminin, Umar Ibnu Khattab. Kedatangannya disambut baik oleh Umar.

“Apa yang engkau lakukan dengan uang sebanyak itu, wahai Amir?” tanya Umar.

“Aku telah melakukan apa saja yang ingin aku lakukan. Apa maksud pertanyaanmu tentang uang itu?” Amir balik bertanya.

“Aku ingin engkau beritahu untuk apa uang sebanyak itu,” jawab Umar.

“Aku tabungkan untuk kepentingan diriku di hari kiamat,” jawab Amir tegas.

Mendengar ucapan Amir seperti itu, Umar meneteskan air mata dan berkata, “Semoga Allah merahmati engkau, wahai Amir.”

Kemudian Umar memberi Amir sejumlah makanan dan dua potong pakaian. Tetapi Amir berkata, “Aku tidak dapat menerima makananmu ini, wahai Amirul Mukminin. Sebab aku masih menyimpan sejumlah makanan untuk keluargaku. Aku hanya dapat menerima kedua pakaian ini untuk isteriku, karena semua pakaiannya telah usang. Sampai-sampai dia hampir tidak mempunyai pakaian.”

Tidak lama setelah kejadian itu, Amir wafat dalam keadaan yang sangat miskin dan Umar merasa kecewa karena kematiannya.

“Alangkah untungnya jika aku mempunyai beberapa pembantu seperti Amir Ibnu Sa’ad yang akan aku tugasi untuk mengatur keperluan kaum Muslimin,” kata Umar.

Kisah yang disampaikan Kiai Mustafa Ismail dalam ceramahnya malam itu sangat berkesan di hatiku. Kesan yang mendalam tentang kisah Gubernur Amir Ibnu Sa’ad sempat kubawa dalam diskusi dengan beberapa teman di kampus.

“Nif, bagaimana komentar kamu tentang sikap zuhud yang dimiliki Gubernur Homs yang disampaikan Kiai Mustafa Ismail tadi malam?” tanyaku kepada Haniful Huda, teman sekelasku yang baru saja terpilih dan dilantik sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa.

“Luar biasa! Tapi aku tidak yakin, zaman sekarang masih ada gubernur dan pemimpin bangsa di negeri Muslim yang seperti itu,” jawab Hanif pesimis.

“Kenapa begitu?” tanyaku kepada Hanif.

“Buktinya, sekarang ini para pemimpin kita lebih banyak memperkaya diri sendiri daripada berpikir dan berbuat untuk mensejahterakan rakyatnya,” jawab Hanif  gusar.

“Aku setuju dengan Hanif,” ujar Khairunnisa, teman sekelasku yang sejak semester satu sudah menjadi incaran banyak mahasiswa, termasuk Hanif. “Mana ada pemimpin  sekarang yang mau hidup susah demi rakyat seperti Amir Ibnu Sa’ad. Hari gini, banyak pemimpin tidak lagi menganggap jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah, tapi justru menganggapnya sebagai peluang untuk mencari keuntungan duniawiyah semata. Sejak awal mereka berkampanye dalam Pilkada, sudah tampak tersimpan niat untuk mengayakan diri sendiri. Contoh saja ketika berkampanye, mereka sering mengatakan, saya tidak akan memakan gaji saya. Semua gaji saya akan saya pergunakan untuk kepentingan rakyat. Itu kan tidak masuk akal. Kalau semua gaji dihabiskan untuk kepentingan rakyat, lantas mereka mau makan apa? Mau beli baju pakai apa? Menyekolahkan anak pakai apa? Hayooo…! Pasti mereka akan makan uang di luar gaji. Dan itu pasti lebih besar daripada gaji!” tambahnya lagi.

“Betul, Khairunnisa,” tambah Hanif. “Belum lagi, sewaktu kampanye saja mereka sudah menghabiskan uang yang tidak sedikit. Di antaranya, uang yang diberi sponsor dengan diiming-imingi proyek. Belum lagi uang dari hutang sana hutang sini. Semua itu harus diganti setelah jabatan didapat. Guna mengganti uang pinjaman untuk biaya politik yang besar itu, dapat uang dari mana, kalau tidak dari uang pandai-pandai?”

“Ya… Betul, Nif! Aku setuju sama kamu…!” teriak Syafriadi dari bangku belakang. “Buktinya, sekarang banyak kepala daerah yang diperiksa komisi pemberantasan korupsi karena kekayaan mencurigakan yang mereka miliki. Itu artinya mereka selama ini lebih banyak mengayakan diri sendiri daripada memikirkan rakyatnya. Janji-janji mereka saat kempanye dulu hanya tinggal kenangan dan hanya akan digembar-gemborkan lagi dalam kampanye periode berikutnya.”

“Ditambah lagi, banyak anggota parlemen kita yang tersandung kasus suap-menyuap dan perselingkuhan!” seru Burhanudin dari kursi pojok kanan belakang ruang kelas.

“Heh! Apa hubungannya antara selingkuh dengan memperkaya diri?” tanya Hanif dengan penasaran kepada Burhan.

“Ya, ada dong! Kalau tidak punya uang banyak, mana bisa selingkuh, Bung?! Mana ada cewek cantik dan muda yang mau sama orang miskin bin fakir kayak kita. Bayar SPP saja pakai ngutang,” jawab Burhan disambut tawa renyah  Hanif, Khairunnisa, beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainnya yang ikut jadi pendengar setia dalam diskusi menjelang siang itu.

“Kalau zaman sekarang masih ada pemimpin zuhud seperti Amir Ibnu Sa’ad, rakyat pasti sejahtera,” ujar Imron yang sejak tadi hanya tersenyum-senyum sendiri. “Saya yakin sekali, jika bangsa kita dipimpin oleh orang-orang  seperti Amir, tidak bakalan lagi ada kebocoran dalam  anggaran pendapatan belanja negara dan daerah. Anggaran yang tersedia akan terbelanjakan sebagaimana mestinya. Bagaimana mau bocor, pengguna anggarannya saja tidak tertarik dan tidak membutuhkan uang.”

“Akhirnya, kalau tidak ada korupsi, maka presiden pun tidak perlu bersusah payah membentuk komisi pemberantasan korupsi,” ujarku mengakhiri diskusi informal itu.

“Betul, Ibnu Mas’ud,” imbuh Khairunnisa. “Komisi pemberantasan korupsi yang terlanjur dibentuk sekarang ini bisa beristirahat karena tidak ada lagi kasus korupsi yang harus diusut oleh lembaga itu.”

Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan dari Khairunnisa yang begitu bersemangat. Aku sangat kagum dengan keberanian teman-teman kuliahku dalam mengutarakan pendapat. Terkadang aku sendiri khawatir  dengan akibat dari keberanian mereka. Bagaimana kalau-kalau suatu saat komentar mereka yang kadang terkesan memojokkan lembaga tertentu itu didengar oleh inteligen negara dan mereka dilaporkan kepada pihak-pihak berwenang, lalu mereka ditangkap? Ah, tapi ini bukan zaman Orba. Pikirku. Ini zaman reformasi. Siapapun boleh berbicara, asalkan pembicaraan itu berisi kritik yang membangun. Kritik itu penting sebagai bagian dari tawashau bilhaq demi terbentuknya pemerintahan yang baik dan bersih, demi kesejahteraan bersama.

Namun, satu hal yang masih menjadi pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya sampai saat ini. Akankah di zaman canggih ini masih akan lahir pemimpin seperti Amir Ibnu Sa’ad? Di balik pertanyaan kebimbanganku, aku masih menyimpan harapan, semoga dari sekian ribu pemimpin dunia Islam, suatu saat akan lahir para pemimpin yang  berjiwa Amir Ibnu Sa’ad, pemimpin yang sebagian besar waktu, tenaga, dan hartanya dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk diri sendiri; dan  pemimpin yang tidak memanfaatkan jabatan semata-mata untuk memperkaya diri. Semoga terwujud, meskipun harapan itu hanya seperti bisikan air di samudera raya. Amin.

* Ibnu Yasin Al-Hajj Al-Hafizh adalah nama pena dari H. Tirtayasa, penulis tiga buah buku: Dalam Naungan Keagungan Cinta (Novel Spiritual Penggugah Jiwa), Dalam Naungan Mukjizat Cinta (Antologi Fiksi Penggugah Jiwa), dan Berguru kepada Umar bin Khattab (Antologi Pemikiran Keagamaan dan Pendidikan), yang disusul buku keempat, Konsep Manusia dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam (Studi atas Penafsiran Hamka terhadap Ayat-ayat Insaniyah dalam Tafsir Al-Azhar), yang  diterbitkan oleh Aswaja Pressindo Yogyakarta. Saat ini, selain bekerja sebagai Widyaiswara Muda di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Natuna, putera jati Melayu ini  juga mengabdikan dirinya sebagai Imam Besar Masjid Agung Natuna.

Ditulis Oleh Pada Kam 01 Agu 2013. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda