| | 1.425 kali dibaca

Salah Paham

H. Tirtayasa, S.Ag., M.A., CP NLP

Oleh : H. Tirtayasa, S.Ag., M.A., CP NLP,

Masyarakat Kabupaten Gulung-gulung digegerkan oleh kejadian aneh bin ajaib. Kiyai Muhsin Ahmad bin Ahmad Muhsin tiba-tiba hidup lagi. Padahal sudah satu bulan kiyai yang terkenal saleh itu dikuburkan. Menurut nalar, dia pasti sudah menjadi tulang-belulang. Tapi kenyataannya lain, menjelang malam hari itu, kiyai yang dikenal zuhud ini malah tiba-tiba hadir di Masjid Agung Baitul Mujahidin, yang kini sudah dibangun kembali, untuk melaksanakan shalat Magrib berjamaah.”Hantuuuuu….!!! Hantuuuuu…!!!” teriak Raja Hasyim, salah seorang jamaah aktif masjid agung yang mirip dengan Taj Mahal itu.

“Kiyai Mushin jadi hantuuuuu!!!!!!” sambut Wan Sudar lebih keras. Wan Sudar adalah salah seorang petugas pekuburan umum yang ikut menguburkan jenazah Kiyai Muhsin satu bulan lalu.

Mendengar teriakan dua jamaah itu, jamaah yang lain pun berhamburan keluar dari masjid agung. Ustaz Jamaludin yang mendapat giliran menjadi imam shalat Magrib malam hari itu pun ikut kabur dari sajadah pengimaman. Kiyai Muhsin hanya terbengong-bengong melihat tingkah jamaah yang menurutnya aneh itu. Dia pikir, seharusnya mereka senang karena dia kembali hidup, bukan justru menyebutnya hantu. Berniat mengatasi keributan itu, Kiyai Muhsin mengambil mikropon kecil yang biasa digunakan imam. Dengan suara yang serak dan berat, Kiyai Muhsin kemudian memberikan pengumuman, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kaum muslimin dan kaum muslimat yang dicintai Allah. Saya bukan hantu seperti yang Saudara-saudara sangka. Saya benar-benar Muhsin Ahmad bin Ahmad Muhsin, salah seorang jamaah masjid agung ini.”

Mendengar pengumuman itu, para jamaah tidak serta merta percaya. Mereka tidak mau terpedaya oleh tipu muslihat setan. Bisa saja setan sedang menyerupai manusia. Bukankah setan bisa menyerupai siapapun yang dia kehendaki kecuali Nabi Muhammad. Karena itulah, jika ada yang bermimpi bertemu Nabi Muhammad, berarti dia benar-benar bertemu dengan manusia sempurna itu. Karena setan tidak pernah bisa menyerupai wujud fisik beliau, apalagi wujud jiwanya.

“Mana mungkin Kiyai Muhsin bisa hidup lagi? Ah, yang benar saja?” gerutu Nazarudin, salah seorang pejabat eselon Kabupaten Gulung-gulung. “Akhir-akhir ini memang banyak kejadian aneh. Mungkin dunia sudah mau kiamat.”

“Setan mungkin, Pak,” ujar Rozali, salah seorang teman kantornya.

“Iya kali,” jawab Nazarudin ringan.

Memang jamaah Masjid Agung Baitul Mujahidin malam itu lebih banyak dari biasanya. Banyak pejabat dan pegawai pemerintah kabupaten yang hadir. Karena usai Isya’ Bupati Gulung-gulung akan menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad di masjid kebanggaan masyarakat Gulung-gulung tersebut. Tapi, begitu mendapat laporan dari ajudannya tentang kejadian yang menghebohkan itu, Bupati urung hadir. Bupati meminta ajudannya agar menyampaikan kepada panitia supaya acara peringatan Maulid Nabi diundur malam berikutnya.

Dalam situasi yang kacau itu, akhirnya muazin buru-buru mengumandangkan iqamah. Mendengar lantunan iqamah, jamaah yang terlanjur berada di luar masjid berlarian memasuki masjid untuk melaksanakan shalat Magrib tanpa merasa takut lagi dengan Kiyai Muhsin yang juga sedang berbaris rapi bersama jamaah yang lainnya. Akhirnya, shalat Magrib di masjid agung sore itu selesai juga.

Usai shalat Magrib, biasanya di masjid agung diadakan taklim singkat dengan penceramah yang sudah terjadwal. Tapi malam ini tidak seperti biasa, kesempatan taklim malah diberikan kepada Kiyai Muhsin yang berpakaian serba putih yang sudah lusuh itu untuk menceritakan pengalamannya mati hingga hidup kembali. Kiyai Muhsin sebenarnya tidak pernah mau diminta berceramah. Tapi kali ini karena agak dipaksa oleh pengurus dan jamaah masjid agung, akhirnya Kiyai Muhsin mengalah. Kiyai Muhsin pun maju ke mimbar jati buatan Jepara yang sangat mewah itu. Setelah bercerita sekilas tentang bangkitnya dia kembali dari kematian, Kiyai Mushin mengakhiri ceramahnya dan buru-buru turun dari mimbar.

Cerita tentang hidupnya kembali Kiyai Muhsin setelah satu bulan meninggal, menjadi topik pembicaraan masyarakat Gulung-gulung selama berbulan-bulan, mengalahkan hangatnya pembicaraan tentang aktifis kemanusiaan yang tewas di Gaza, mengalahkan hebohnya perbincangan penangkapan teroris oleh polisi Republik Pura-pura Makmur, juga mengalahkan hebohnya berita kenaikan BBM. Di sela-sela istirahat usai taklim ba’da Magrib, beberapa jamaah masjid agung bahkan tidak habis-habisnya mendiskusikan kejadian yang sangat aneh ini. Bagaimana mungkin, manusia yang sudah mati kok hidup kembali.

“Benar-benar aneh, Pak”, ujar Sabiq Muslim kepada beberapa jamaah sambil menikmati hidangan ringan yang disajikan usai taklim  shalat Magrib pada suatu malam. Pada malam itu, Kiyai Muhsin tampak tidak hadir di masjid agung. Mungkin dia sedang berceramah di masjid lain. Kiyai Muhsin mendadak jadi penceramah kondang sejak dia bangkit dari kematian.

“Iya, memang ajaib,” sambung jamaah yang lain. Biasanya dia dipanggil Mad Nasir. Setiap usai Magrib dia bersama teman-temannya yang lain bertugas menghidangkan makanan ringan untuk jamaah masjid agung.

“Padahal, menurut cerita orang tua saya, Kiyai Muhsin itu orang yang sangat baik,” ujar Sabiq Muslim. “Beliau lahir ke dunia, meskipun diberi mata, tapi tidak pernah digunakan kecuali hanya untuk menatap langit. Bahkan menurut cerita orang tua saya juga, sejak dilahirkan, Kiyai Muhsin itu diletakkan di tabung kaca yang rapat, sehingga kebobrokan manusia dan virus dosa tidak menyentuhnya. Semasa kecilnya, dia adalah anak manusia yang tidak mengenal keburukan dan tidak pula mengenal maksiat. Dia tidak pernah menyakiti binatang apalagi manusia. Harta benda yang dimilikinya hanyalah sebuah tasbih dari kerikil, sebilah pisau cukur, surban yang sudah lusuh dan sepasang pakaian yang sudah usang. Saya juga sering menyaksikan dia berzikir dengan tasbih itu di masjid agung ini. Kiyai Muhsin tidak bekerja, tidak berusaha mencari kehidupan di dunia, jauh dari hiruk-pikuk kemewahan duniawi. Bahkan kita tahu, makanannya adalah sedekah yang diberikan orang-orang yang dermawan. Di saat orang lain sibuk membuat proposal permohonan bantuan keuangan kepada pemerintah misalnya, bahkan sebaliknya dia tidak pernah meminta-minta kepada siapapun dan tidak pernah pula menuntut kebahagiaan dunia. Yang dia lakukan sehari-hari hanyalah beribadah, shalat, berzikir dan membaca Al-Qur’an. Lalu ada apa dengan Kiyai Muhsin? Kenapa harus hidup kembali di dunia ini? Apa ada yang kurang dari dia?” ujar Sabiq Muslim.

“Bagaimana kalau malam besok kita minta lagi Kiyai Muhsin untuk berceramah di masjid agung ini, Pak?” tanya salah seorang pengurus masjid agung. “Ceramahnya kemaren malam saya pikir belum cukup untuk menjelaskan kejadian aneh ini.”

“Setujuuuu!!” jawab jamaah yang lain serempak.

Jadilah usai shalat Magrib malam berikutnya, Kiyai Muhsin diminta kembali berceramah ihwal kembalinya dia ke alam dunia, karena banyaknya jamaah yang masih penasaran atas kejadian unik ini.

Setelah mengawali ceramahnya dengan basmalah, hamdalah dan shalawat, Kiyai Muhsin pun melanjutkan ceritanya yang dalam ceramahnya yang lalu terpotong. Mungkin waktu itu Kiyai Muhsin masih syok berat karena baru saja bangun dari kematian.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang dirahmati Allah…. Saya harus menceritakan semuanya kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua. Saya memang benar-benar sudah mati selama sebulan yang lalu. Tapi sekarang saya juga benar-benar hidup kembali di tengah Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua. Kenapa semua ini terjadi?” Begitulah Kiyai Muhsin mengawali ceritanya tentang peristiwa menghebohkan yang menimpa dirinya. “Begini, Kaum muslimin dan Kaum muslimat yang berbahagia… Suatu ketika saya berjalan melenggang menuju surga, malaikat penjaga surga mencegat saya,” lanjut Kiyai Muhsin.

“Untuk apa, Kiyai?” tanya salah seorang jamaah penuh heran.

“Ternyata malaikat itu memberi tahu bahwa saya dilarang masuk karena saya dianggap tidak pantas untuk masuk surga,” jawab Kiyai Muhsin. “Malaikat kemudian menasehati saya untuk ke neraka dan mengetuk pintuk neraka saja.”

“Lalu, Pak Kiyai?” tanya jamaah yang lain.

“Dengan hati terluka sekali saya berusaha mengetuk pintu neraka. Tapi sayang sekali dan tanpa diduga, ternyata  malaikat penjaga neraka pun melarang saya masuk. Malaikat itu bilang bahwa saya juga tidak pantas tinggal di neraka,” sambung Kiyai Muhsin.

“Terus, Kiyai?” tanya jamaah yang lain lagi lebih penasaran.

“Nah, dalam kebingungan saya itu, muncul suara yang menggema. Wahai, Muhsin Ahmad bin Ahmad Muhsin! Di sini tidak ada tempat untuk kamu! Perlu kamu tahu, dunia adalah tempat pertarungan antara kebaikan dan keburukan serta pertikaian antara keutamaan dan kehinaan bagi manusia. Jika kebaikan menang, maka manusia yang menang tersebut berhak tinggal di surga. Namun sebaliknya, jika kalah, manusia tersebut akan tinggal di neraka. Sedangkan kamu, tidak pernah menjalani peperangan di dunia, sehingga tidak mungkin dikatakan menang atau kalah. Ibarat ujian kenaikan kelas, maka kamu belum menjalankan ujian tersebut. Maka, kamu tidak berhak tinggal di surga atau neraka. Akhirnya, Tuhan memberikan pengecualian agar saya hidup kembali supaya saya bisa membuktikan dan memperjuangkan antara kebaikan dan keburukan, mana yang unggul di antara keduanya. Kalau saya unggul dalam kebaikan maka setelah saya meninggal untuk kedua kalinya, saya akan masuk surga. Tapi jika saya dikalahkan oleh keburukan, maka saya akan diceburkan ke dalam neraka.”

Mendengar penjelasan Kiyai Muhsin yang panjang lebar itu, sikap jamaah pun terpecah. Ada yang berpendapat bahwa cerita Kiyai Muhsin itu sungguh mengada-ada dan tidak masuk akal karena menurut mereka, tidak mungkin ada manusia yang sudah mati lalu hidup kembali di dunia ini. Sungguh suatu kebohongan besar! Mereka yakin, Kiyai Muhsin bukannya mati ketika dikuburkan selama satu bulan yang lalu, tapi dia hanya pingsan atau mati suri. Jadi, cerita Kiyai Muhsin itu, kalaupun bisa dibenarkan, paling-paling hanya mimpi belaka. Kiyai Muhsin bisa bertahan di kubur selama satu bulan tanpa makan itu biasa, karena selama di luar kubur pun dia jarang makan. Kelompok pertama ini diwakili oleh Bujang Rahman, Jefri Al-Bukori-nya Kabupaten Gulung-gulung.

Ada juga yang berpendapat bahwa cerita Kiyai Muhsin itu bisa saja sungguh-sungguh terjadi jika Allah menghendaki. Alasan mereka, jika Allah memang berkehendak, jangankan Kiyai Muhsin yang mungkin sudah menjadi tulang-belulang, yang belum pernah ada contohnya saja bisa Allah ciptakan. Contohnya, manusia. Sebelum Adam belum pernah ada makhluk bernama manusia. Tapi atas kehendak mutlak Allah, manusia dibuat tanpa ada contoh sama sekali sebelumnya. Menurut kelompok jamaah ini, peristiwa hidupnya Kiyai Muhsin kembali itu adalah perkara kecil dan mudah bagi Allah. Lagi pula, menurut mereka, Kiyai Muhsin itu adalah orang yang sangat jujur, sehingga apapun yang diceritakannya bisa dipastikan itu sebuah kebenaran. Jadi, dalam pandangan kelompok jamaah kedua ini, hidupnya kembali Kiyai Muhsin itu benar-benar terjadi. Kiyai Muhsin benar-benar pernah mati dan dihidupkan kembali oleh Allah. Titik! Kelompok kedua ini diketuai Mat Rahim yang pernah menjadi komandan perubuhan masjid agung sewaktu pemilu lalu.

Lain lagi dengan kelompok yang ketiga. Kelompok ini berpendapat bahwa tidak perlu mempersoalkan apakah cerita Kiyai Muhsin itu benar-benar terjadi atau tidak. Yang penting adalah   hikmah di balik kejadian itu. Kelompok ini dipimpin oleh Kiyai Solehudin Salam yang pernah memberi fatwa bolehnya merubuhkan masjid agung jika itu memang menguntungkan baik secara politik maupun bisnis. Kiyai Salam ini memang terkenal sebagai kiyai oportunis bahkan mungkin machiavelianis sejati yang bersedia melakukan apapun asalkan tujuannya bisa tercapai. Kadang dia terkesan begitu peduli dengan orang lain tapi sebenarnya di balik kepeduliannya itu tersimpan niat yang sangat berseberangan dengan perbuatan lahiriahnya. Di balik kepeduliannya terhadap seseorang justru tersimpan niat untuk menghancurkan orang tersebut. Kejam! Memang sangat kejam! Tapi itulah penasehat spiritual yang paling dipercayai dan dihormati oleh Bupati Gulung-gulung. Dan kali ini, Kiyai Salam ini mencoba menempatkan dirinya seolah-olah sebagai penengah yang sangat baik hati antara dua kelompok yang berseberangan secara ekstrim, yaitu kelompok Bujang Rahman dan kelompok Mat Rahim.

***

Suatu malam. Ketika mendapat giliran berceramah di Masjid Agung Baitul Mujahidin, Kiyai Salam kembali menegaskan pendapat kelompoknya tentang hidupnya kembali Kiyai Muhsin. “Saudara-saudara jamaah Masjid Agung Baitul Mujahidin yang berbahagia… Malam ini saya tegaskan lagi, terlepas dari kontroversi hidupnya kembali Kiyai Muhsin, salah satu jamaah masjid agung yang kita cintai, saya ingin memberikan pemahaman yang menurut saya paling tepat dan paling benar tentang masalah ini. Menurut saya, kita tidak perlu berdebat panjang lebar tentang benar atau tidaknya cerita Kiyai Muhsin. Yang terpenting adalah, mari kita memetik hikmah dari kejadian ini. Apa hikmah dari peristiwa yang unik bin aneh bin ajaib ini, Saudara-saudara yang dicintai Allah? Di antaranya adalah, kita jangan takut berbuat dosa! Dosa apapun, silakan Saudara-saudara lakukan! Zina? Ayooo! Minum-minuman keras? Oke! Judi? Silakan! Yang pentiiiiing, kita harus mengakui perbuatan dosa kita! Lalu kita bertobat! Setelah bertobat, kita berbuat dosa lagi! Setelah itu, berbuat dosa lagi dan bertobat lagi. Yang penting lagiii…. Perbuatan dosa harus diikuti dengan tobat dan perbuatan baik, maka perbuatan dosa kita dengan sendirinya akan terhapus! Tidak ada manusia di dunia ini yang terlepas dari dosa. Kalau tidak pernah berdosa, itu namanya malaikat, bukan manusia! Dan yang terpenting lagi adalah, kita harus menang atas keburukan walaupun kita pernah terpuruk dalam keburukan! Maka di situlah kita akan menemukan eksistensi kita sebagai manusia!”

Mendengar penjelasan Kiyai Salam yang berapi-api, beberapa jamaah menelan air liur. Ingin rasanya mereka menurunkan paksa Kiyai Salam dari mimbar masjid agung. “Kiyai Salam benar-benar sudah keterlaluan. Dia terlalu berani, menyuruh orang berbuat maksiat, yang penting mau bertobat dan mengikutkan perbuatan maksiat itu dengan amal saleh. Ya, kalau setelah melakukan maksiat itu kita masih diberikan umur panjang sehingga bisa bertobat dan beramal saleh. Kalau tidak, ya bisa-bisa kita mati dengan predikat su’ul khotimah, mati dalam keadaan sesat!” gerutu Bujang Rahman.

Meskipun demikian, jamaah tidak berani menurunkan Kiyai Salam dari mimbar. Mereka takut Kiyai Salam tersinggung dan melaporkan mereka kepada Bupati atau disantet. Mengerikan! Biarlah Kiyai Salam memuaskan syahwat ceramahnya di mimbar terhormat itu sampai waktu shalat Isya’ tiba.

Belum puas dengan penjelasannya, Kiyai Salam menambahkan, “Hidup ini adalah pilihan untuk menjadi baik atau menjadi buruk. Terserah kita mau memilih. Asalkan kita siap dengan konsekuensinya. Kalau kita memilih menjadi baik maka kita berhak mendapatkan surga Allah. Di sana kita akan berjumpa dengan para nabi dan rasul, syuhada, wali-wali Allah dan orang-orang saleh lainnya. Tapi kalau kita nekad memilih keburukan, maka kita pantas diceburkan ke dalam neraka. Di neraka kita akan bereuni dengan setan dan para pengikutnya. Itulah resiko sebuah pilihan. Jadi kita jangan memaksakan orang lain untuk menjadi saleh. Kita hanya diberi kewajiban untuk mengajak, bukan untuk memaksa. Orang lain berhak menentukan pilihannya sendiri, surga atau neraka. Lagi pula kalau semua masuk surga, maka surga akan penuh sesak. Kalau surga terlalu penuh, maka surga akan terasa sempit. Kondisi seperti ini kurang mengenakkan, tidak menyenangkan dan pasti tidak mengasyikkan. Ini akan melenceng dari konsep awal bahwa surga adalah tempat yang mengenakkan, menyenangkan sekaligus mengasyikkan! Bagaimana mungkin surga bisa menjadi tempat yang mengenakkan, menyenangkan dan mengasyikkan, kalau di sana penuh sesak dengan manusia!!? Jadi, biarkan orang lain masuk neraka, asal kita masuk surga! Betul, Saudara-saudara!!!?” seru Kiyai Salam lantang meminta tanggapan dari jamaah. Namun, hanya orang-orang tertentu yang menjawab seruan Kiyai Salam. Merekalah para oportunis dari kalangan pejabat Kabupaten Gulung-gulung yang kerjaannya hanya membasahi tangan Bupati dengan jilatan-jilatan lidah munafik mereka.

Mendengar ceramah Kiyai Salam yang semakin membakar kuping itu, dipandu Bujang Rahman, sejumlah jamaah memilih untuk keluar dari masjid agung. Mat Rahim, karena merasa tidak enak dengan Kiyai Salam, memilih untuk tetap bertahan di dalam masjid. Bagaimanapun, meski berseberangan, Kiyai Salam adalah tetap guru spiritualnya yang sangat dia segani.

Meskipun jamaah ada yang memaksa diri keluar dari masjid agung, Kiyai Salam tetap melanjutkan ceramahnya, “Saudara-saudara semua…! Orang yang tidak membuat pilihan antara baik dan buruk  adalah orang-orang yang pengecut. Masuk surga itu bagus. Masuk neraka itu juga bagus. Itu namanya orang yang pemberani dan teguh pendirian. Siap menerima resiko atas perbuatannya. Intinya, hidup ini pilihan antara baik dan buruk. Menurut saya, baik dan buruk itu sama-sama bagus. Yang tidak bagus adalah tidak membuat pilihan. Karena itulah, maka Kiyai Muhsin Ahmad  bin Ahmad Muhsin dihidupkan kembali supaya dia membuat pilihan! Apapun pilihannya setelah dihidupkan kembali, itu terserah dia! Yang penting dia sudah membuat pilihan! Memilih kebaikan berarti dia akan masuk surga! Memilih keburukan, maka dia akan masuk neraka! Kalau dia sudah memilih, yakinlah dia tidak akan dihidupkan kembali untuk membuat pilihan untuk kesekian kalinya. Satu hal lagi yang perlu saya sampaikan. Jangan pernah menghina setan. Karena dalam beberapa hal setan lebih teguh daripada kita. Dia sanggup masuk neraka karena keteguhannya memegang prinsip untuk tidak bersujud  kepada selain Allah dan karena keteguhannya menjalankan tugas sebagai penggoda manusia. Itulah pilihannya. Kita harusnya belajar dari setan tentang pentingnya memegang sebuah prinsip dan keteguhan dalam menjalankan tugas itu. Jadi, kata kunci ceramah saya malam ini, buatlah pilihan! Jangan plin-plan! Masuk surga atau neraka itu sama-sama bagus! Yang penting kita sanggup menjalaninya! Pertanyaanya, siapa sih yang berani masuk neraka?! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh!”

 Ceramah Kiyai Salam yang kontroversial itu sempat membuat suasana Kabupaten Gulung-gulung memanas. Tapi, mereka yang terbiasa bermaksiat di kafe-kafe Kampung Piak justru merasa mendapat angin segar. Mereka baru tahu dari Kiyai Salam kalau bermaksiat itu juga bagus asal siap dengan resikonya.

“Luar biasa!” ujar Gafar Lunong, pemilik salah satu kafe yang ada di Kampung Piak kepada salah seorang pengunjung kafenya. “Kalau begini isi ceramahnya, saya sanggup tiap malam ke masjid agung. Bahkan saya akan ajak PSK yang bekerja di kafe saya untuk ikut pengajian di masjid agung. Tak salah kiranya, Bupati Gulung-gulung membangun masjid agung dekat kafe, biar banyak PSK dan pria hidung belang yang datang ke masjid, meskipun tidak untuk bertobat tapi minimal bisa menambah ilmu yang mendukung perkembangan bisnis kafe esek-esek saya.”

“Eh, Pak Gafar jangan salah tafsir ya,” kilah H. Mad Din, salah seorang pelanggan tetap kafe Gafar Lunong. Meskipun sudah berkali-kali naik haji, Mad Din yang sudah terbilang berusia lanjut ini tetap betah menjadi menjadi pelanggan kafe esek-esek. Dia punya keyakinan, setelah mati manusia tidak akan disiksa. Alasannya, yang melakukan maksiat adalah jasad. Sedangkan jasad akan hancur bersama tanah. Jadi, dengan sendirinya manusia akan bebas dari siksa karena jasad sudah hancur. Apanya yang mau disiksa, sedangkan yang akan disiksa itu sendiri sudah hancur? Menurut H. Mad Din, ruhlah yang akan tetap utuh seperti sediakala. Ruh tidak pernah berbuat dosa karena berasal dari Tuhan Yang Maha Suci dan akan menghadap Tuhan tetap dalam keadaan suci. Pendapat yang mengatakan bahwa ruh berbuat dosa itu adalah pendapat yang keliru. Begitu menurut H. Mad Din. Karena tidak mungkin Tuhan tempat ruh itu berasal akan berbuat dosa. Bukankah Tuhan sendiri membenci perbuatan dosa dan Tuhan itu Maha Suci? Karena Tuhan Maha Sucilah, maka ruh juga suci oleh sebab Tuhan tempat ruh itu berasal adalah Zat Yang Maha Suci. Dan mana mungkin Tuhan menghukum zat yang suci dari dosa. Jadi, dalam pandangan H. Mad Din, yang berbuat dosa itu sebenarnya hanya jasad, dan ruh sama sekali tidak terlibat. Nah, mumpung di dunia, berbuatlah dosa sepuas-puasnya, karena setelah mati dosa itu akan lebur bersama tanah. Karena itu pulalah, H. Mad Din merasa tidak pernah takut berbuat dosa. Jadilah kafe Gafar Lunong itu tempat langganan tetap H. Mad Din berbuat mesum.

“Salah tafsir bagaimana, Pak Haji?” tukas Gafar Lunong. “Bukankah Pak Haji sering maksiat ke kafe saya? Setelah itu Pak Haji bertobat. Maksiat lagi. Tobat lagi. Enak kan? Inilah pemahaman agama yang menurut saya paling memudahkan dan mengenakkan kita. Tidak seperti pemahaman Ustaz Bujang Rahman yang terlalu ekstrim! Masa empat puluh buah rumah yang ada disekitar tempat maksiat terkena imbasnya semua! Tapi tak apa-apa juga, kan hidup itu pilihan antara baik dan buruk? Dan keduanya sama-sama bagus? Mantap lah! Suatu saat nanti saya mau mengundang Kiyai Salam berceramah di kafe saya. Biar banyak pengunjungnya. Dan saya pasti kasih bonus yang besar untuk Kiyai Salam.”

“Begini, Pak Gafar. Inti dari ceramah Kiyai Salam itu, orang harus membuat pilihan antara baik dan buruk asal siap dengan resikonya. Tapi jangan lupa, siapa sih yang siap menerima resiko masuk neraka? Apa Pak Gafar tidak mendengar Kiyai Salam pernah bilang seperti itu?” jelas H. Mad Din seraya bertanya.

“Tidak, Pak,” jawab Gafar Lunong.

“Makanya, kalau dengan ceramah jangan sambil tidur,” sindir H. Mad Din. Mendengar sindiran itu Gafar Lunong tersenyum kecut.

“Mendingan Pak Gafar ikut paham saya. Lebih enak. Silakan saja berbuat maksiat. Yang penting setelah mati kita tidak akan disiksa karena jasad yang berbuat maksiat itu sudah hancur bersama tanah. Di akhirat nanti kita hanya berbentuk ruh saja dan akan menghadap Allah tetap dalam keadaan suci,” tambah H. Mad Din. Gafar Lunong yang minim ilmu agama hanya mengangguk-angguk saja.

Sebenarnya paham H. Mad Din ini pernah dibantah Bujang Rahman. Perdebatan antara Bujang Rahman dengan H. Mad Din waktu itu berlangsung sengit. Bujang Rahman tetap mempertahankan pendapatnya bahwa setiap manusia akan mempertanggung jawabkan  perbuatannya apapun jenis dan bentuk perbuatannya itu. Bujang Rahman pun mengutip beberapa ayat Al-Qur’an dan beberapa hadis yang mendukung pendapatnya. Namun, H. Mad Din tetap bersiteguh pada pendiriannya. Menurutnya, pertanggungjawaban yang dimaksud ayat dan hadis itu hanya pertanggungjawaban atas amal saleh saja, tidak termasuk amal buruk. Amal buruk itu akan hancur lebur bersama tanah. Meskipun Bujang Rahman pernah mengingatkan bahwa paham H. Mad Din ini akan menimbulkan euforia maksiat di Kabupaten Gulung-gulung, H. Mad Din tidak pernah mau mengubah pahamnya tentang leburnya dosa bersama jasad ini. Bujang Rahman akhirnya memilih untuk menghentikan perdebatan. Bujang Rahman memegang prinsip, bagiku amalku dan bagimu amalmu. Biarlah H. Mad Din seperti itu. Dia sendiri yang akan menanggung akibat dari  perbuatannya.

***

Tiga bulan kemudian. Kesalahan tafsir atas paham kebebasan memilih versi Kiyai Salam yang disampaikannya ketika menanggapi kasus hidupnya kembali Kiyai Muhsin ini merebak di berbagai lapisan masyarakat. Ditambah lagi dengan perkembangan paham H. Mad Din tentang leburnya dosa bersama jasad yang semakin meluas. Euforia maksiat pun merambah hingga ke pelosok kampung. Masjid-masjid tak lagi dikunjungi. Sebagian besar Umat Islam di Kabupaten Gulung-gulung tidak lagi mendirikan shalat, melaksanakan puasa, zakat dan ibadah-ibadah lainnya. Kafe esek-esek justru disesaki pengunjung: anak-anak, remaja, bahkan juga orang tua. Di antara yang menerima berkah salah tafsir dan salah paham ini, selain Diskotek Venus dan Diskotek Virgo,  adalah kafe Gafar Lunong. Gafar Lunong pun mendadak kaya-raya. Kiyai Salam dan H. Mad Din pun ketularan rezeki dari Gafar Lunong. Kiyai Salam yang sudah kaya kini bertambah kaya. H. Mad Din malah dihajikan lagi oleh Gafar Lunong. Beberapa orang PSK berprestasi diajak dalam keberangkatan haji plus bersama H. Mad Din. Kiyai Salam pun bertindak sebagai pemandu haji plus itu. Luar biasa!

Sang Raja Setan yang tinggal tidak jauh dari lokasi kafe itu pun tertawa lebar dan berjingkrak-jingkrak kegirangan. Hidungnya membesar karena dipuji Kiyai Salam atas keteguhan prinsipnya untuk tidak bersujud kepada selain Allah dan keteguhannya untuk tetap menjadi penggoda manusia. Sang Raja Setan dan rakyatnya pun memberikan tepuk tangan yang super meriah kepada Kiyai Salam yang ceramahnya berhasil membuat masyarakat salah tafsir terhadap agama  dan H. Mad Din atas prestasinya yang baik menyebarkan paham leburnya dosa bersama jasad.

“Saya akan memberikan medali penghargaan kelas alam semesta kepada Kiyai Salam dan H. Mad Din atas prestasi mereka menjalankan misi dan mewujudkan visi saya sebagai Raja Setan…!”

Para malaikat, di bawah pimpinan Jibril, yang diberi perintah langsung oleh Tuhan untuk melakukan inspeksi mendadak pun gusar melihat tingkah laku Raja Setan, Kiyai Salam, H. Mad Din dan sebagian  besar masyarakat Kabupaten Gulung-gulung.***

*H. Tirtayasa, S.Ag., M.A., CP NLP, adalah Narasumber Dialog Interaktif Agama Islam (LIVE) Indahnya Pagi TVRI Nasional, Penceramah Damai Indonesiaku TVOne, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, Imam Besar Masjid Agung Natuna dan Widyaiswara Muda pada Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau

Ditulis Oleh Pada Sen 29 Des 2014. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek